Sejauh ini masih banyak pandangan sinis dari masyarakat Indonesia terhadap pengguna motor gede (moge). Jadi begitu mereka meminta izin masuk jalan tol, pasti muncul reaksi keras karena menganggap arogansi mereka akan semakin menjadi-jadi. Tapi, pengguna moge mengaku mereka tidak seperti yang dianggap oleh masyarakat.
"Motor besar kalau dilihat ada kesalahan, wah semua salah. Tapi kami setiap tahun sama-sama selalu bergandengan tangan. Ada musibah, kami turun tangan. Apalagi seperti ini bulan Ramadan, kami bergerak," kata Sekretaris Jenderal Motor Besar Club (MBC) Indonesia Irianto Ibrahim di Jakarta.
Bahkan, Irianto mengatakan, pengguna moge bisa menjadi duta kedamaian. Sebab, lanjutnya, dengan kebersamaannya, mereka bisa menebar kedamaian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, Irianto mengatakan, pandangan sinis dari masyarakat itu lahir karena jumlah pengguna moge yang kecil. Jumlahnya yang sedikit membuat pengguna moge sebagai sorotan masyarakat.
"Asal ada kasus motor besar, bisa jadi bencana semua itu. Padahal kalau kita lihat, Bro, masalah motor kecil satu hari itu empat orang meninggal. Motor besar enggak banyak kok. Tapi kalau sedikit motor besar, orang menghujat kita seperti apa. Tapi mereka tahu enggak masalah motor kecil tuh kayak apa, satu hari 4 orang meninggal," tegas Irianto.
Aktivitas pengguna moge di dalam komunitas tidak hanya melakukan konvoi di jalanan.
"Kami tidak hanya gas motor, jangan lihat teman-teman berpenampilan. Itu hanya tampilan aja kok. Kita kumpul, ada bencana, cepat kok teman-teman kita bantunya. Jadi tolong lah, kami jangan dilihat sebelah mata saja, kami jangan dilihat melanggar saja," ujar Irianto.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!