Nah detikOto, sempat melihat proses pembuatan helm Cargloss. Prosesnya ternyata cukup panjang. Mulai dari pembentukan batok helm hingga siap dipasarkan terus diawasi oleh para pekerja di pabrik Cargloss di wilayah Citeureup, Bogor, Jawa Barat.
Dengan begitu, produk yang dihasilkan tetap maksimal. Keamanan pun menjadi jaminan bagi pengguna helm Cargloss. Sebab, di pabrik ini Cargloss juga menguji kualitas sesuai standarisasi SNI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Pembentukan Helm dari Biji Plastik
|
|
Untuk mencetak batok helm, pertama kali biji plastik dicairkan. Kemudian, cairan plastik itu dibentuk sesuai cetakan batok helm. Di dalam mesin molding injection, plastik dipadatkan selama 65 detik.
Untuk pembuatan kaca dan aksesoris tidak jauh berbeda dengan proses pencetakan batok. Hanya saja, waktu yang diperlukan dalam mesin berbeda. Proses pembuatan kaca helm memakan waktu 33 detik sementara proses pembuatan aksesoris menghabiskan 7,5 detik.
2. Pengecatan
|
|
Selesai dicat, batok helm diberikan ornamen-ornamen. Tapi, ornamen yang ada pada helm bukanlah hasil dari air brush. Ornamen itu berasal dari water decal atau stiker yang ditempel menggunakan air. Hasilnya menyerupai dengan hasil air brush.
3. Perakitan dan Quality Control
|
|
Dalam proses ini, helm dilengkapi dengan nut (list karet atas atau bawah), styrofoam, tali pengaman, stiker, pet dan kaca helm. Terakhir, helm dicek kualitasnya kemudian dikemas.
4. Uji SNI
|
|
Sayangnya, alat untuk menguji itu merupakan rahasia dapur Cargloss.
Jadi detikOto dan awak media lainnya tidak diperkenankan untuk mengambil gambar proses pengujian.
Langkah awal pengujian SNI, helm masuk ke dalam alat yang bernama tracking point. Alat ini berfungsi untuk menentukan titik-titik yang diuji. Satu helm ada 5 titik dalam dua kali proses pengujian. Kelima titik itu berada di depan, atas, belakang, dan samping.
Langkah kedua, helm masuk ke alat uji penyerapan kejut. Alat ini fungsinya untuk menguji getaran yang dihasilkan ketika helm terkena benturan.
Pada tahap ini, helm yang diberi beban seberat 5 kg akan dijatuhkan dari ketinggian 230 cm. Berat dan tinggi itu disamakan dengan kecepatan motor hingga 150 km/jam. Dalam perhitungan gravitasi, batas maksimal yang ditentukan SNI boleh melebihi 300 G.
"Sedangkan Cargloss 198 G dan itu masih jauh dengan standar. Ketika terjadi kecelakaan dia bisa meredam getaran. Kalau di atas 300 G bisa menyebabkan gegar otak," kata Staf Lab Uji helm Cargloss Deni Fahri.
Selanjutnya, masuk ke pengujian chin strap atau tali pengaman pada helm. Pengujian ini dilakukan untuk mencoba kekuatan tali apakah akan lepas atau tidak dalam keadaan darurat. Pengujian dilakukan di dalam alat uji efektivitas sistem penahan. Alat uji ini punya pemberat yang bebannya 4 kg. Pemberat itu diangkat kemudain dijatuhkan dengan ketinggian 1 meter. Chin strap yang diikat kencang di dagu, tidak boleh terlepas jika baban dijatuhkan dari ketinggian 1 meter.
Selesai pengujian chin strap, helm masuk ke alat uji penetrasi. Alat ini memiliki tombak tajam untuk menguji kekuatan batok helm. Tombak seberat 3 kg itu diangkat dan dicatuhkan hingga ketinggian 160 cm. Jika helm pecah atau tidak layak standarisasi, sensor pada alat ini akan berbunyi.












































Komentar Terbanyak
Warga Ngeluh Bayar Pajak Kendaraan Dipersulit, 'Nembak' KTP Asli Rp 700 Ribu
Viral 70 Ribu Motor Listrik buat Operasional MBG, Harganya Bikin Kaget!
Konversi 120 Juta Motor Bensin ke Listrik Terancam Gagal, Cuma Jadi Ilusi