Namun sayang karena aturan yang mengharuskan ban berlabel SNI membuat niat perusahaan ban Continental terhambat.
Sebenarnya Continental sebagai perusahaan ban asal Jerman kepincut untuk meramaikan industri ban roda dua di Tanah Air. Namun Continental merasa perizinan SNI cukup mahal, jadi ban-ban motor Continental tidak memiliki standar SNI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurutnya ban motor Continental bisa bersaing dengan ban motor premium di Indonesia. Dengan harga yang kompetitif, tentu akan menguntungkan pihak Continental. Tapi sayang karena belum ber-SNI langkah Continental terhenti.
"Ini kan continue dan bisa diprediksi keuntungan penjualan. Hanya harus ambil SNI, dan agak sulit pengurusannya," ucapnya.
Kualitas ban SNI dikatakan Fadhillah sebenarnya cukup baik. Soalnya standar SNI juga menganut standar Jepang, Eropa dan Amerika.
Continental pun belum bisa memastikan kapan ikut meramaikan pasar roda dua di Indonesia, tidak seperti ban mobil Continental yang sudah lebih dulu hadir.
Dia menambahkan sebenarnya kualitas ban motor Continental sangat baik meski tanpa cap SNI. Kendati demikian, pihak Continental pun belum tahun kapan terut meramaikan pasar ban motor.
"Belum ada kepastian," pungkasnya.
Sementara itu, Ia memprediksi harga ban motor impor Continental dari Jerman bisa 3 kali lipat dari ban motor yang diproduksi di dalam dengan model dan ukuran yang sama.
"Setidaknya hargnya bisa tiga kali lipat dibandingkan ban produksi dalam negeri," tutup pria berkacamata itu.
(ikh/ddn)












































Komentar Terbanyak
Pemerintah Ancam Cabut Izin Gojek-Grab Andai Tak Patuhi Komisi 8%
Viral Pengemudi Calya Ngamuk, Patahkan Spion-Wiper Mini Cooper
Pemilik Kendaraan yang Belum Bayar Pajak Didatangi Petugas Samsat