'Bukan Motor yang Dibikin Lambat, Tapi Pengendaranya'

'Bukan Motor yang Dibikin Lambat, Tapi Pengendaranya'

- detikOto
Jumat, 29 Jun 2012 14:54 WIB
Bukan Motor yang Dibikin Lambat, Tapi Pengendaranya
Jakarta - Untuk menekan angka kecelakaan bermotor, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Suroyo Alimoeso sempat berkelakar apakah pabrikan perlu membuat motor yang berjalan pelan.

Hal ini disikapi seragam oleh Otolovers. Mereka menilai, bukan motor yang harus dibuat lambat tetapi pengendara yang dibikin 'lambat' dan menaati peraturan lalu lintas.

"bah bikin motor jalan lambat??? mo ampe kapan nyampenya??? manusianya tuh dibikin \"lambat\" bawa motornya...ndak usah sok2 kebut2an uda kayak jagoan....dan POLISI juga perhatiiin, jangan cuma seenak jidatnya maen tilang !!!" tulis Cin lie.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bukan Motor nya yang dislahkan......tapi system & aturannya yang tidak dijalankan oleh yang berwenang. kadang oknum yang berwenang juga membuat contoh yang tidak baik dimasyarakat masih ada yang oknum yang berwenang pakai motor sambil smsan. ditambahkan harus nya lebih digencarkan dalam pembuatan sim dilibatkan juga instruktur Safety Raiding untuk mengajarkan kepada calon pemegang sim sim akan keluar apa bila ada pengesahan terakhir dari instruktur Safety Riding. jadi bekal mereka berkendaraan motor dijalan raya sangat baik... selain patuh berlalu lintas so pasti akan safety," sahut Boy Rider.

"speed limit di jalan harus di berlakukan, road craft practical test waktu ambil sim juga harus benar-benar dii jalankan. di Australia , pengendara motor rata2 diatas 500cc, tapi rata-rata nggak ada yang gila-gilaan nyetirnya kayak di indo, dimana mana ada speed limit, dan safety riding style benar2 di jalankan. Dan yang namanya mau punya sim susah setengah mati,, :(," tulis rafael.

Sebelumnya tingkat kecelakaan di Indonesia membuat banyak pihak gerah. Bukan apa-apa, tiap tahun ada sekitar 30 ribu orang tewas di jalanan Indonesia dengan persentase terbanyak ada di roda dua.

Angka tersebut tentu mengkhawatirkan. Apalagi korban kecelakaan kebanyakan adalah masyarakat yang sedang dalam usia produktif.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Suroyo Alimoeso dalam seminar Intellegent Transport System mengatakan bahwa tingginya angka kecelakaan terutama kecelakaan yang melibatkan sepeda motor adalah suatu hal yang sangat menakutkan.

Apalagi angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor pun menurutnya makin tahun makin meningkat saja.

"Angka kecelakaan kita cukup tinggi 30.000-40.000 dalam 1 tahun. Kita punya target untuk menurunkannya sebanyak 26 persen sampai 2020. Ini bukan pekerjaan mudah dan tidak bisa jalan sendiri-sendiri," ujarnya.

"Apalagi yang kecelakaan itu kebanyakan bukan orang tua, tapi orang yang masih dalam usia produktif. 80 persen dari kecelakaan terjadi karena human error. 80 persen kecelakaan melibatkan motor," keluhnya.

Melihat hal itu, Suroyo pun berkelakar apakah kita harus seperti Jepang saja yang memasarkan motor listrik yang hanya bisa berjalan pelan.

"Di Jepang kebanyakan pakai motor listrik. Apa mungkin kita harus jual sepeda motor yang jalannya 10 km/jam saja. Apalagi iklan motor di sini gambarnya wes, wes, wes (orang mengebut)," katanya.

Untuk itu, dia pun menekankan agar disiplin berlalu lintas harus menjadi budaya dan ditegakkan dengan tegas sambil pemerintah daerah membangun sistem transportasi yang lebih memadai.




(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads