AISI Sayangkan Kenaikan DP Kredit Motor

AISI Sayangkan Kenaikan DP Kredit Motor

- detikOto
Selasa, 20 Mar 2012 12:03 WIB
AISI Sayangkan Kenaikan DP Kredit Motor
Jakarta - Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyayangkan kenaikan uang muka kredit motor. Mereka menilai selama ini tidak ada masalah berarti dalam pembayaran kredit oleh masyarakat menengah ke bawah. Meski DP murah, kredit tetap bisa dikontrol.

"Saya melihat uang muka atau DP(Down Payment) harusnya tidak dinaikkan. Soalnya kredit macet kendaraan roda dua itu sangat kecil sekali di bawah 1,27 persen," ujar Ketua AISI Gunadi Sinduwinata kepada detikOto.

Perusahaan pembiayaan lanjutnya, saat ini sudah memiliki management dan pengalaman yang baik, jadi kredit motor tidak akan menyebabkan bubble di ekonomi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini motor tidak menimbulkan bubble karena ini merupakan kebutuhan, justru kredit itu intrumen kita untuk mengendalikan bubble. Kalau mereka sudah kredit mereka tidak bisa kredit lagi. Kita melihat intitusi kita telah tumbuh dewasa, dengan DP Rp 200-300 ribu ini merupakan mekanisme yang sudah bisa dikontrol," ujarnya.

Gunadi menjelaskan, zaman dahulu memang pernah terjadi kredit macet, namun itu terjadi karena masalah teknis, konsumen tidak bisa menyetor cicilan, bukan tidak mampu membayar cicilan kredit.

"Kalau DP 40 persen itu waktu dulu pertama kali ada sistem DP. Dulu kredit bisa macet, karena konsumen harus ditagih dan ini sangat sulit untuk daerah yang berada di pedalaman. Sekarang para konsumen sudah bisa manfaat ATM, pos, selain itu jaringan internet itu sudah bagus, sehingga institusi pusat bisa mengkontrol langsung. Ini yang menyebabkan industri ini menjadi sehat," ujarnya.

Gunadi khawatir penerapan DP yang cuup tinggi akan mempengaruhi penjualan motor, dampaknya industri motor di tanah air akan terkena dampaknya.

"Dampaknya penurunan dari volume penjualan, kita harus melihat jangan dari DP saja, kenaikan BBM juga bisa meningkatkan inflasi. Dan kenaikan DP ini pasti akan ada dampaknya meski sedikit. Mereka membeli karena uang mereka cukup, Dan konsumen yang tertunda untuk memiliki kendaraan itu tidak satu orang dan ini akan terus bergulir," ujarnya.

(ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads