Dianggap 'Kasta Rendah', Harley-Davidson Kesulitan di China

Dianggap 'Kasta Rendah', Harley-Davidson Kesulitan di China

- detikOto
Selasa, 20 Sep 2011 11:08 WIB
Dianggap Kasta Rendah, Harley-Davidson Kesulitan di China
Beijing - Tidak bisa dipungkiri kalau untuk urusan penjualan mobil, China adalah pasar yang terbesar saat ini. Namun untuk urusan roda dua, beda lagi. Bahkan Harley-Davidson pun merasa kesulitan menjual motor besar mereka di sana.

Saat ini, China menjadi pasar mobil terbesar di dunia setelah melewati penjualan mobil Amerika Serikat. Diperkirakan akan ada lebih dari 14 juta mobil yang terjual tahun ini di negeri tirai bambu itu.

Pabrikan mobil pun seolah berlomba-lomba menancapkan kukunya menginvasi tanah China. Namun bagi produsen motor besar seperti Harley-Davidson, penjualan di China tidaklah terlalu bagus.

Sebab di China, motor dianggap memiliki 'kasta' yang lebih rendah bila dibandingkan dengan mobil.

Lebih dari itu, di banyak kota di China, sejak tahun 1990an banyak larangan mengendarai motor terutama karena polusi dan kebisingan yang mungkin ditimbulkan oleh kendaraan roda dua. Ada sekitar 100 kota di China termasuk Beijing dan Shanghai yang membatasi pergerakan motor di kotanya.

Padahal China menurut Harley merupakan pasar yang sangat potensial dengan penduduk 2.300 kali lebih besar dari Milwaukee, kota tempat Harley lahir. Namun anehnya, penjualan Harley di Milwaukee malah lebih besar dari China.

"Peraturan yang sakit. Ada banyak jalan yang Anda tidak bisa lewati, dan aturan-aturan bisa berbeda dari tempat ke tempat," ungkap pengusaha Shanghai Calvin Chen, yang memiliki Harley-Davidson V-Rod Muscle seperti detikOto kutip dari Chinacartimes, Selasa (20/9/2011).

Untuk itulah, Harley saat ini sedang melobi pemerintah China dan Amerika untuk memudahkan hukum-hukum di dataran itu dalam upaya meningkatkan penjualan sebanyak 40 persen per tahun sampai 2016,

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap investasi di China tanpa mengatasi persyaratan peraturan akan menjadi seperti benteng yang dibangun di atas pasir. Kita harus proaktif dalam melakukan pendekatan dengan pemerintah." tambah Managing Direktur Harley-Davidson untuk China, Sean Jiang.

Hukum China menurut Jiang memperlakukan motor besar seperti Harley sama seperti sepeda motor biasa atau skuter meskipun beberapa Harley memiliki mesin dengan kapasitas yang lebih besar dari mobil dan bea masuk 30 persen dari harga motornya.

Selain itu, motor yang sudah berumur 11 tahun juga harus segera dipensiunkan.

Di China harga sebuah Touring Ultra Classic Electra Glide memiliki banderol sekitar 340.000 yuan. Jauh lebih tinggi dari harga sebuah mobil sedan semacam BMW 320i yang dijual mulai 273.600 yuan atau Audi A4L yang berharga 247.800 yuan.

Selain itu, larangan motor untuk dikendarai juga menjadi persoalan tersendiri. Shanghai melarang sepeda motor berjalan di jalan raya. Sementara Beijing sudah tidak lagi mengeluarkan STNK untuk motor baru sejak tahun 1985. Dan Guangzhou melarang sepeda motor pada tahun 2007.

Karena itulah penjualan Harley di China tidak bisa dibilang menggembirakan. Tahun lalu, Harley sanggup melepas 268 unit motor saja. Padahal Milwaukee yang hanya memiliki penduduk sebesar 595.000 jiwa sanggup menjual 500an motor setahun.

Sedangkan Honda yang menjual motor ber-cc kecil serta skuter mampu melepas 1,29 juta unit di China.

"Para konsumen China tidak familiar mengendarai motor di waktu luang. Mereka selalu melihat kendaraan roda dua sebagai transportasi dan kendaraan untuk bekerja. Bagaimana kita membuat orang untuk memahami sebuah rekreasi?," ujar Chief Executive Officer Harley-Davidson, Keith Wandell.

(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads