Meski makin populer, namun populasi motor listrik di Indonesia masih belum terlalu dominan. Padahal, adopsi elektrifikasi membuat negara bisa menghemat banyak anggaran. Bagaimana hitung-hitungannya?
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dibagikan Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), penggunaan 900 ribu motor listrik dapat mengurangi konsumsi BBM sekitar 320 juta liter per tahun sekaligus menekan kompensasi Pertalite sekitar Rp480 miliar per tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk pengguna, Kementerian ESDM juga memperkirakan penghematan biaya operasional motor listrik dapat mencapai Rp 2,68 juta per tahun. Dengan skala kendaraan roda dua di Indonesia yang sangat besar, AISMOLI memandang percepatan adopsi motor listrik bisa menghasilkan efek penghematan yang signifikan.
"Kalau dilakukan dalam skala jutaan kendaraan, manfaatnya bukan hanya dirasakan pemilik motor melalui biaya operasional yang lebih rendah," kata Ketua Umum AISMOLI, Budi Setiyadi melalui rilis yang diterima detikOto, Kamis (13/8).
"Negara juga memiliki peluang mengurangi konsumsi BBM dan ruang fiskal yang selama ini diperlukan untuk menjaga harga energi. Karena itu, motor listrik harus mulai dilihat sebagai bagian dari solusi efisiensi energi nasional," tambahnya.
Motor listrik Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto |
Berdasarkan rasio penghematan konsumsi BBM yang pernah dihitung Kementerian ESDM, setiap satu juta motor yang beralih ke listrik setara dengan potensi pengurangan konsumsi BBM sekitar 356 juta liter per tahun.
Artinya, peralihan 5 juta motor berpotensi mengurangi kebutuhan BBM sekitar 1,78 miliar liter per tahun, sementara 10 juta motor dapat mencapai sekitar 3,56 miliar liter per tahun. Angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan rasio perhitungan Kementerian terkait.
"Yang ingin kita bangun bukan sekadar lebih banyak motor listrik di jalan. Kita ingin masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang semakin ekonomis sekaligus membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Kalau ekosistemnya semakin kuat, manfaatnya akan dirasakan konsumen, industri, maupun negara," tutup Budi.











































