Subsidi Motor Listrik Tak Jelas, Penjualan 2025 Anjlok

Subsidi Motor Listrik Tak Jelas, Penjualan 2025 Anjlok

Ridwan Arifin - detikOto
Rabu, 07 Jan 2026 08:10 WIB
Subsidi Motor Listrik Tak Jelas, Penjualan 2025 Anjlok
Ilustrasi motor listrik Foto: Dok. PTΒ IndomobilΒ EmotorΒ Internasional (IEI)
Jakarta -

Angka penjualan sepeda motor listrik 2025 mengalami penurunan 28,6 persen dibandingkan tahun lalu. Biang keroknya gara-gara ketidakjelasan subsidi motor listrik.

Data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) mencatat, penjualan motor listrik tahun 2025 hanya mencapai 55.059 unit, turun dari tahun 2024 yang mencapai 77.078 unit.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setiyadi, menilai turunnya penjualan motor listrik tak lepas dari absennya insentif atau subsidi dari pemerintah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya, pasti turun. Tahun lalu kan 77 ribu unit, tahun 2025 menjadi 55 ribu unit. Tapi menurut saya turunnya ini karena tidak ada subsidi. Kalau ada subsidi, pastinya melampaui jauh dari tahun lalu," kata Budi saat dihubungi detikOto, Selasa (6/12/2025).

ADVERTISEMENT

Meski demikian, Budi menilai angka penjualan 55 ribu unit masih menunjukkan minat masyarakat terhadap motor listrik belum hilang. Data tersebut mencakup seluruh merek motor listrik yang beredar di Indonesia, termasuk merek-merek besar.

"Walaupun tidak ada subsidi, penjualan sekitar 55 ribu. Itu untuk semua brand, termasuk anggota AISI juga. Pastinya ada Honda juga di situ," kata Budi.

"Data yang ada di Kementerian Perhubungan berdasarkan SRUT. Dengan angka itu menurut saya masuk akal, masyarakat masih ada minat, masyarakat masih mau membeli, semakin lama makin banyak mobil listrik, motor listrik, juga di media sosial, juga ada sepeda listrik juga cukup banyak, artinya dengan bertumbuhnya mobil listrik, sepeda listrik, secara tidak langsung akan mendongkrak penjualan motor listrik juga, meskipun tidak lebih tinggi," jelas dia.

Kelanjutan program subsidi motor listrik di Indonesia tidak jelas. Sebelumnya insentif motor listrik dijanjikan akan keluar pada Agustus 2025. Namun, sampai berganti tahun belum ada kabar lagi.

Meski tahun 2025 tak ada insentif, sejumlah produsen motor listrik di Indonesia bisa menyiasatinya dengan sistem sewa baterai yang membuat harga OTR motor listrik terlihat kompetitif.

Cara ini salah satunya sudah dilakukan oleh produsen motor listrik Polytron hingga Alva.

"Penjualan motor dinamis, misalnya ada yang juga sewa, seperti Polytron. Itu cukup banyak juga sewanya," ujar Budi.

"Yang paling mudah diakses oleh masyarakat tanpa melihat brand. Itu masyarakat tertarik, misalnya mungkin skema baterai sistem sewa, sehingga motornya mungkin jadi harganya murah, kemudian motornya bisa pakai swab, kalau habis bisa langsung diambil di Alfamart, dan sebagainya," tambah dia.

Merujuk data SRUT Kemenhub yang diterima detikcom, tren motor listrik terus bertumbuh dalam tiga tahun terakhir. Penjualan mencapai puncaknya pada 2024 yang menyentuh 77 ribu unit, bertepatan dengan masa berlakunya program subsidi pemerintah.

Angka Penjualan Motor Listrik dari Tahun ke Tahun


2017: 32 unit
2018: 234
2019: 982 unit
2020: 2.109 unit
2021: 10.546 unit
2022: 17.198 unit
2023: 62.409 unit
2024: 77.078 unit
2025: 55.059 unit




(riar/din)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads