Hyundai Matrix Berbaju Palembang

Hyundai Matrix Berbaju Palembang

- detikOto
Jumat, 16 Jul 2010 09:52 WIB
Hyundai Matrix Berbaju Palembang
Palembang - Ada yang menarik saat gelaran kontes modifikasi Clas Mild Accelera Auto Contest 2010 di Palembang. Bila yang lain sibuk mengusung tema-tema umum, Hyundai Matrix yang satu ini tampil nyeleneh dengan mengusung budaya Palembang.

Pemiliknya, Alwi Noviadi dari klub modifikasi mobil BJG Lifestyle, sepertinya hendak menunjukkan kekayaan budaya Palembang seperti kain songket, juga tari Gending Sriwijaya, melalui sekujur bodi Hyundai Matrix miliknya yang juga dipermak secara ekstrim dalam gelaran tersebut.

"Intinya, sebuah low rider khas Palembang, saya sampai harus survey ke Museum untuk mengetahui budaya dan sejarah dari Palembang," ujarnya ketika berbincang dengan detikOto, di Palembang Square, Palembang, beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mulai dari tampilan bodinya yang tentunya sudah rebah. Alwi sampai harus mengajak artis airbrush asal Yogyakarta, Agus Daritz untuk melaburi sekujur bodi Matrix dengan nuansa batik songket Palembang, termasuk juga keempat pelek yang turut terkena sentuhan etnik songket Palembang.

Sementara bagian kap mesinnya, sekarang dibuka ke samping, karena Alwi sudah menggeser engsel-engselnya. Dengan bagiatengah yang dibuat bolong dan menggembung, Alwi hendak menjadikan kap mesin Hyundai Matrix ini sebagai batu prasasti, lengkap dengan tulisan sanskerta pada permukaannya.

Sementara itu, ketika masuk ke dalam kabin, nuansa etnik bukannya surut, malah semakin mengental. Terutama pada bagian stir yang terbuat dari rantai berkelir emas, serta pedal-pedal gas, rem dan kopling yang menggunakan kepala gesper bermotif simbol-simbol kerajaan Sriwijaya Palembang.

Tak ketinggalan, seluruh jok pun dilapisi kulit dengan pinggiran diberikan rajutan batik songket Palembang, dengan inisial nama sapaan sang pemilik 'Oppie' terpatri di bagian punggung jok tersebut.

"Saya sudah lama punya mimpi, pengen bikin mobil yang mengedepankan kultur budaya daerah seperti ini, dan baru sekarang kesampaian," ujarnya.

Tak sia-sia memang, setelah menghabiskan waktu 2 bulan dengan total biaya mencapai Rp 170 juta, meski tak menang kontes cukup untuk memuaskan sang pemilik.

"Saya tidak mikir menang atau kalah, yang penting inilah budaya yang harus dipertahankan, bisa diterapkan dimana saja, termasuk mobil," pungkasnya.

Ya, siapa tahu dengan begitu, tidak ada lagi yang berani mencuri budaya Palembang ya, bro?

(bgj/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads