BYD angkat suara soal penyebab anjloknya penjualan wholesales (distribusi pabrik ke dealer) per Mei 2026. Begini penjelasannya.
Berdasarkan data wholesales yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), BYD hanya mengantongi 895 unit sepanjang bulan tersebut.
Baca juga: Kok BYD Bisa Jual M6 DM Rp 298 Juta? |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka tersebut menjadi rekor sebagai volume penjualan bulanan terendah BYD sejak pertama kali mencatatkan data wholesales di Indonesia pada Juni 2024. Penurunan tajam di bulan Mei 2026 ini terbilang sangat kontras jika dibandingkan dengan performa BYD pada empat bulan pertama tahun ini, di mana pengiriman mereka konsisten berada di angka ribuan unit.
Lebih rinci, empat bulan sebelumnya masih konsisten di kisaran ribuan unit, yakni 4.879 unit pada Januari, 4.653 unit (Februari), 2.941 unit (Maret), dan 4.625 unit (April).
Menanggapi rapor merah tersebut, Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan buka suara. Menurutnya, penurunan drastis ini merupakan dampak dari proses transisi basis produksi ke lokal.
"Itu adalah dampak dari transisi production source kita, sebelumnya kita masih berbasis impor. Wholesales itu bagian dari penjualan principal kepada dealer," ujar Luther.
Luther menjelaskan saat ini perusahaan tengah menata ulang sistem pasokan unit seiring dengan dimulainya era produksi lokal untuk pasar Indonesia. Hal inilah yang memicu penyesuaian angka distribusi pada bulan lalu.
"Kita membenahi sistem supply dengan transisi dari barang CBU (impor utuh) ke produksi lokal. Sehingga ada sedikit shock di sisi angka, tapi itu akan normal kembali di bulan ini," ungkapnya optimis.
Efek transisi ini juga berdampak langsung pada salah satu lini andalan mereka, Merek yang biasanya mendominasi papan atas ini secara mengejutkan terdepak dari daftar 10 mobil listrik terlaris di Indonesia.
Produk terlaris mereka pada Mei 2026, yakni MPV listrik BYD M6, hanya mampu tertahan di peringkat ke-12 dengan raihan 197 unit. Pun demikian dengan BYD Atto 1, yang biasanya kompetitif namun kali ini hanya terdistribusi 28 unit saja.
Luther tidak menampik kabar tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari dinamika transisi pabrik.
"Ya memang itu dampak dari transisi itu, mungkin itu bisa dibaca kenapa bisa ada shock, pengurangan yang cukup signifikan tersebut," pungkas Luther.
(riar/dry)












































Komentar Terbanyak
Penjelasan Pertamina soal Harga Pertamax Tiba-tiba Naik 10 Juni
Cerita Prabowo Naik Maung: Atap Bocor, Bunyi Gledak-gledak
Jangan Kaget Lihat Harga Pertamax, Sekarang Tembus Rp 16.250/liter