2 Tahun Studi, Ini Tantangan Konversi Toyota Calya Bensin Jadi Listrik

ADVERTISEMENT

2 Tahun Studi, Ini Tantangan Konversi Toyota Calya Bensin Jadi Listrik

Ridwan Arifin - detikOto
Jumat, 02 Des 2022 11:35 WIB
Peluncuran mobil selalu diramaikan oleh SPG-SPG cantik. Tak terkecuali dengan peluncuran Toyota Calya, para SPG cantik siap berpose dengan mobil LCGC tersebut.
Toyota Calya Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Agus Purwadi, Head of Electrical Energy Conversion Research Laboratory Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan perkembangan studi konversi Toyota Calya dari mobil bensin menjadi mobil listrik. Dua tahun studi berjalan, tapi prosesnya belum selesai, terutama soal keamanan.

"Kalau sekedar jalan dan berfungsi mungkin no problem. Yang jadi masalah kalau kita lihat international standard, ataupun nanti homologasinya, kita harus memenuhi safety aspek yang sangat ketat," ujar Agus saat memberikan paparan di Seminar Nasional "Strategi Menuju Net Zero Emission Bersama Toyota Indonesia", Kamis (1/12/2022).

Agus mengatakan pihaknya bersama Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih melakukan studi pada Toyota Calya untuk dikonversikan jadi mobil listrik. Jadi ITB melakukan studi terhadap Calya transmisi matic yang memiliki Internal Combustion Engine (ICE) 1.200 cc, mobil itu dikonversi jadi Battery Electric Vehicle (BEV).

Sejatinya proyek ini sudah diungkap ke publik sejak 2021, tapi studinya sudah dimulai sejak 2020 dan sempat terhambat pandemi Covid-19.

Agus menjelaskan studi terhadap Calya ini mengedepankan keselamatan berstandar internasional. Saat ini dia bilang tidak mudah mengkonversi mobil yang memenuhi standar keselamatan.

"Kami berharap memang ini tidak bisa kalau untuk kendaraan roda empat memang agak berat, memang harus punya safety aspek yang cukup tinggi, dan terkait itu komunikasi ataupun protokol sehingga comply dengan SPKLU-nya juga oke. Kami berharap ini tetap berlanjut di berikutnya, sehingga kami bisa resolve itu," kata dia.

"Dan masalah kedua, kalau kami berbeda sendiri dengan yang dilakukan di UI, dan ITS. Kami memilih transmisi matic, ternyata mapping dari ECU-nya memang harus di-adjust. Mau tidak mau kita harus a line antara karakter motor dengan karakter transmisinya yang matic ini. Jadi menurut kami ini tantangan yang berat juga. Tapi kalau transmisi manual itu mudah, dan bisa dilakukan, jadi paling tidak untuk low dan high speed saja," terang Agus.

"Ini mudah-mudahan jadi pelajaran berharga untuk bisa masuk ke level atas untuk comply dengan homologasinya," pungkasnya.



Simak Video "Irit! Konsumsi Bensin Mobil Baru Toyota Ini Tembus 32,6 Km/Liter"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT