ADVERTISEMENT

Beli Pertalite Harus Daftar, Kalau Telat Langsung Disuruh Beli Pertamax

Dina Rayanti - detikOto
Selasa, 28 Jun 2022 11:44 WIB
PT Pertamina (Persero) sudah siap untuk menjual produk bensin terbarunya yakni Pertalite. Bensin RON 90 ini akan dijual pertamakali di SPBU Coco, Abdul Muis, Jakarta pada Jumat (24/7/2015) mendatang. Petugas beraktivitas di SPBU Coco, Abdul Muis, Jakarta, Selasa (21/7/2015). Pada Jumat (24/7/2015) mendatang, SPBU ini siap menjual Pertalite RON 90.  Hasan Al Habshy/detikcom.
Telat daftar ke situs Pertamina? Konsumen tidak lagi bisa beli Pertalite dan diarahkan membeli Pertamax ataupun BBM nonsubsidi lainnya. (Foto: Hasan Al Habshy/detikOto)
Jakarta -

Mulai 1 Juli 2022, pembeli BBM jenis Pertalite dan Solar subsidi harus mendaftar ke website MyPertamina atau aplikasi MyPertamina. Dengan begitu, hanya konsumen terdaftar saja yang bisa membeli kedua jenis BBM tersebut. Pertamina akan memberikan jangka waktu bagi konsumen untuk mendaftar.

Bagi yang telat mendaftar, siap-siap tidak bisa lagi membeli Pertalite dan diarahkan untuk mengisi BBM nonsubsidi. Salah satunya Pertamax.

"Misalnya kalau satu bulan konsumen tersebut belum juga registrasi maka mohon maaf dengan berat hati kita akan arahkan pembeli Pertalite itu untuk mengisi Pertamax," ungkap Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting dikutip CNBC Indonesia.

Begitu konsumen mendaftarkan kendaraan dan identitasnya, maka akan mendapat notifikasi melalui email terdaftar. Pengguna terdaftar akan mendapatkan QR Code khusus yang menunjukan data tersebut cocok dan memang diperbolehkan mengisi Pertalite maupun Solar.

Sebagai awalan, rencananya sistem ini akan diuji di beberapa kota atau kabupaten tersebar di lima provinsi yaitu Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta.

Di lain pihak, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tengah mengatur kriteria mobil yang bisa membeli Pertalite. Sejauh ini Kepala BPH Migas Erika Retnowati mengatakan pemilik mobil mewah dengan cc besar yang bakal dilarang beli Pertalite.

Namun, belum ada rincian lebih jelas berapa besar cc yang dimaksud. BPH Migas juga menggandeng Universitas Gadjah Mada untuk melakukan kajian terkait cc tersebut.

"Memang pada saat kami membahas banyak perdebatan dan kami sampai pada kesimpulan akan ditetapkan pada CC-nya. Kenapa? kami melihat konsumsinya karena CC-nya besar maka akan mengkonsumsi BBM yang banyak dan mereka itu dirancang untuk tidak konsumsi Pertalite dengan spesifikasi mesin dan bahkan lama-lama akan merusak mesin juga," ungkap Erika.



Simak Video "Polling detikcom: Banyak yang Setuju Pertalite untuk Motor dan Kendaraan Umum"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT