China dan Korea 'Invasi' Industri Otomotif RI, Pabrikan Jepang Ketar-ketir?

Luthfi Anshori - detikOto
Sabtu, 23 Apr 2022 12:30 WIB
Produsen mobil asal China Chery resmi kembali masuk ke pasar Indonesia. Chery juga sudah siap menghadapi kerasnya persaingan di industri otomotif Tanah Air.
Merek otomotif asal China, Chery, kembali lagi ke Indonesia. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Dalam beberapa tahun terakhir ini pabrikan mobil dari China dan Korea Selatan begitu agresif menanamkan investasinya di Indonesia. Kehadiran merek asal dua negara itu tentunya memanaskan pasar otomotif Indonesia yang sebelumnya didominasi oleh pabrikan Jepang. Apakah ini bikin pabrikan mobil Jepang jadi khawatir pasarnya akan direbut merek mobil asal dua negara tetangganya itu?

Seperti diketahui bersama, merek-merek mobil non Jepang mulai eksis dan stabil di industri otomotif Indonesia. Dari China ada Wuling, DFSK, juga Chery yang baru saja kembali ke Tanah Air setelah sempat hengkang. Dari Korea Selatan ada merek Kia dan Hyundai. Khusus Hyundai, merek ini menanamkan investasi besar-besaran di Indonesia, bahkan berani memproduksi mobil listrik Ioniq 5 di pabrik barunya di Cikarang, Bekasi.

Marketing & Customer Relations Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO), Hendrayadi Lastiyoso, menilai positif kehadiran merek-merek tersebut di Tanah Air. Sebab dengan demikian, konsumen bisa mendapatkan banyak pilihan.

Daihatsu Terios ImprovementDaihatsu Terios salah satu tulang punggung penjualan Daihatsu di Indonesia Foto: Luthfi Anshori/detikcom

"Daihatsu selalu mengatakan bahwa dengan banyaknya brand-brand baru yang bagus-bagus, itu pasti menguntungkan konsumen. Konsumen melihatnya berarti ada banyak pilihan. Bagi Daihatsu itu nggak papa," kata Hendrayadi.

Lanjut Hendrayadi menambahkan, Daihatsu optimis tetap bisa bersaing di tengah ketatnya industri otomotif Indonesia seiring kehadiran brand-brand non Jepang tersebut. Alasannya karena memiliki model-model mobil yang kuat di rentang harga di bawah Rp 300 jutaan. Selain itu, juga didukung jaringan purnajual yang sudah mapan di seluruh Indonesia.

"Tetapi Daihatsu percaya bahwa dengan brand Daihatsu yang sudah lama, maka rasanya segmen Daihatsu pasti masih tetap ada ya. Masih bisa bersaing dengan brand-brand yang baru masuk tersebut," sambungnya.

"Selain Daihatsu memiliki produk-produk yang disukai masyarakat Indonesia, terbukti dengan market share nomor dua dan 17% minimalnya, satu lagi Daihatsu dikenal dengan layanan purnajual yang lebih terjangkau. Karena dalam hal pengadaan sparepart, biaya servis, kemudian juga jaringan luas, itu salah satu kekuatannya. Jadi kalau konsumen punya Daihatsu, mendapatkan suku cadang sampai di kampung-kampung kan begitu gampangnya. Ini salah satu (keunggulan) yang disukai konsumen," terang Hendrayadi.

(lua/dry)