Imbas Perang Rusia-Ukraina, Pabrikan Mobil Bisa Makin Nelangsa!

ADVERTISEMENT

Imbas Perang Rusia-Ukraina, Pabrikan Mobil Bisa Makin Nelangsa!

Tim detikcom - detikOto
Kamis, 24 Feb 2022 19:54 WIB
Kepulan asap mengepul dari kompleks gedung Kementerian Pertahanan Ukraina di Kyiv. Berikut penampakan foto-foto terkininya!
Imbas perang Rusia-Ukraina terhadap industri otomotif Foto: REUTERS/VALENTYN OGIRENKO
Jakarta -

Analis menilai konflik Rusia dan Ukraina akan mengganggu rantai pasokan industri otomotif. Utamanya sanksi yang diberikan sejumlah negara kepada Rusia.

Uni Eropa (UE) akan memberikan sanksi ekonomi kepada Rusia. Presiden Komisi Eropa Ursula Von Der Leyen mengatakan pihaknya akan memblokir semua akses ekonomi Rusia, termasuk bank. Selain akses ekonomi, Eropa juga akan memblokir akses teknologi dan pasar penting lainnya bagi Rusia.

"Kami akan melemahkan basis ekonomi Rusia dankapasitasnya untuk memodernisasi," tutur Leyen dikutip dari Al Jazeera, Kamis (24/2/2022).

Rusia adalah salah satu pemasok terbesar di dunia dari logam utama, termasuk paladium dan nikel, yang digunakan dalam pembuatan mobil di seluruh dunia. Negara tersebut juga merupakan rumah bagi basis manufaktur yang cukup besar dengan fasilitas pabrik produsen asing seperti Stellantis, Volkswagen, Renault, dan Mercedes-Benz.

Dikutip dari Nbcnews, pabrik perakitan mobil tersebut bisa mengalami kesulitan untuk terus beroperasi saat sanksi diberlakukan.

Rusia adalah pemasok nikel terbesar ketiga di dunia yang digunakan dalam baterai lithium-ion, dan menyediakan 40 persen paladium yang digunakan dalam catalytic converter. Bahan baku ini dapat ditemukan di semua kendaraan bertenaga bensin, gas dan diesel.

Jika Presiden Rusia Vladamir Putin membalas sanksi terhadap Barat dengan memotong pasokan paladium, maka bisa membuat industri otomotif sengsara.

"Pembuat mobil harus mencari pasokan alternatif atau mereka tidak akan dapat membangun kendaraan dengan mesin pembakaran internal," kata Sam Abuelsamid, analis mobil utama untuk Guidehouse Insights dikutip dari Nbcnews, Kamis (24/2/2022).

Afrika Selatan dan Zimbabwe juga memproduksi paladium dalam jumlah besar, tetapi sebelum pasukan Rusia menyeberang ke dua wilayah Ukraina minggu ini, harga logam langka itu naik dengan cepat. Pada pertengahan Desember, paladium turun ke level $1.600 per ounce. Pada hari Rabu, telah naik menjadi lebih dari $ 2.400. Kenaikan harga seperti itu dapat menambah $150 untuk biaya rata-rata kendaraan baru, dan lebih dari $200 untuk SUV, pikap, dan mobil sport dengan mesin yang lebih besar.

Lebih lanjut, jika pasokan nikel dibatasi dapat memperlambat produksi baterai yang digunakan dalam kendaraan listrik. Ini juga disebut sebagai pukulan bagi inisiatif utama pemerintahan Biden, yang menargetkan kendaraan listrik menyumbang hingga setengah dari semua mobil baru pada tahun 2030.

Abuelsamid menambahkan ada sumber tambahan nikel - Indonesia dan Filipina - tetapi permintaan dan harga telah tumbuh dan pembuat mobil dapat menghadapi tantangan yang sama, yakni kenaikan harga seperti paladium.

Produsen mobil Rusia juga punya alasan untuk khawatir. Pabrikan mobil itu bergantung 25 persen suku cadang dari asing yang dibutuhkan untuk menjaga pabrik perakitan mobil tetap ngebul.

Salah satu produsen, Grup Gaz, telah secara terbuka memperingatkan bahwa mereka harus menghentikan produksi jika sanksi diberlakukan. Gaz memproduksi kendaraan niaga ringan dan menengah, bus dan komponen otomotif untuk pasar domestik dan ekspor.

"Sanksi sebagian besar akan berdampak pada pembuat mobil Eropa, dan beberapa merek Asia," kata Joe Phillippi, kepala AutoTrends Consulting.

Ketegangan Rusia dan Ukraina menambah derita industri otomotif dunia yang masih belum bisa sepenuhnya bangkit dari kelangkaan chip semikonduktor.

Simak juga 'Pasar Saham Asia Anjlok Imbas Serangan Rusia ke Ukraina':

[Gambas:Video 20detik]



(riar/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT