Airlangga: Bukan Cuma Sawah, Knalpot Kendaraan Juga Perlu Dipupuk

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kamis, 11 Nov 2021 16:58 WIB
Berbagai kendaraan pribadi dan niaga dilakukan uji emisi gratis di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (2/10). Kegiatan yang dilakukan 3 hari oleh swasta ini dikerjakan di beberapa titik seperti Senayan, Tugu Proklamasi dan Kelapa Gading. File/DtikFoto.
Emisi dari mesin diesel perlu ditekan. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Industri otomotif dihadapkan tantangan untuk membuat kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Ini dibutuhkan untuk menjaga lingkungan Bumi yang lebih baik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, terkait perubahan iklim, perlu diperbaiki dari segi emisi, termasuk dari sektor otomotif.

"Kita sudah menjalankan B30 (biodiesel 30%). Dengan dijalankannya B30 maka kelapa sawit masuk dalam super cycle," ucap Airlangga dalam pidatonya di acara Upacara Pembukaan GIIAS 2021 di ICE, BSD, Kab. Tangerang, Kamis (11/11/2021).

Airlangga bicara penerapan teknologi untuk membuat kendaraan lebih ramah lingkungan, terutama kendaraan bermesin diesel. Dia mencontohkan, di Eropa sudah menerapkan catalytic converter.

"Untuk itu teknologinya sederhana, menggunakan urea solution. Indonesia perlu memikirkan bagaimana di industri berbasis diesel exhaust-nya perlu ktia pikirkan. Karena kita merupakan salah satu penghasil urea terbesar di ASEAN. Jadi yang dipupuki bukan hanya di sawah, tapi knalpot perlu dipupuk supaya NOx (nitrogen oksida) bisa dikurangi," jelas Airlangga.

Dia melanjutkan, Indonesia juga tengah menuju era elektrifikasi kendaraan bermotor. Ini dilakukan untuk mendukung pengurangan emisi gas buang dari kendaraan bermotor.

"Terkait dengan mobil bermotor listrik, Pemerintah sudah mengeluarkan PP (Peraturan Pemerintah No.) 74 dan PPnBM (Pajak penjualan atas barang mewah) berbasis pada tingkat emisi. Ini yang kita harus terus jaga," ucapnya.

Airlangga menyoroti penampilan kendaraan listrik di pameran GIIAS 2021. Diharapkan, ini bisa membuat ekosistem rantai pasokan kendaraan listrik bisa terbentuk.

"Kita ketahui kita sudah punya nikel, kobalt, mangan, kita dorong untuk industri katoda, industri battery cell, sampai industri otomotif. Kita punya kemampuan dengan adanya domestic market untuk membuat industri supply chain yang lengkap, dan kita berharap industri ini seluruh swasembada di dalam negeri dan produknya bisa diekspor ke berbagai negara," katanya.



Simak Video "Tarif Uji Emisi Tak Diatur Pemerintah, Cuan Baru Bagi Bengkel?"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)