Inden Toyota Raize Sudah Normal, Tak Ada Lagi Cerita Nunggu Sampai 9 Bulan

Luthfi Anshori - detikOto
Jumat, 22 Okt 2021 15:16 WIB
Toyota Raize
Inden Toyota Raize sudah normal, tak perlu tunggu waktu hingga 9 bulan lagi. Foto: Luthfi Anshori/detikOto
Jakarta -

Toyota Raize menjadi salah satu model baru yang menyorot perhatian konsumen otomotif di Tanah Air. Di awal masa kemunculannya dulu, mobil ini banyak diburu. Bahkan, Toyota kewalahan memenuhi permintaan pelanggan hingga masa inden sangat panjang mencapai 9 bulan. Tapi itu cerita dahulu, sekarang inden atau masa tunggu Raize sudah normal.

Ya, seperti dikatakan Direktur Pemasaran Toyota-Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy, saat ini inden produk-produk mobil Toyota tidak selama seperti dulu, ketika pandemi virus Corona (Covid-19) baru masuk ke Indonesia, dan menyebabkan pekerja di pabrik perakitan dibatasi.

"Inden tetap ada, tapi kalau dibilang lama banget dibandingkan beberapa bulan lalu sih udah much better (lebih baik) sih sebenarnya," buka Anton kepada wartawan, di Edutown BSD City, Tangerang Selatan, belum lama ini.

"Contohnya Raize, waktu itu banyak yang memberitakan inden Raize sampai 9 bulan ada yang setahun. Sekarang ya paling, sebulan, dua bulan. Jadi sudah catching up (mengejar produksinya) ya," sambung Anton.

Lanjut Anton menambahkan, inden-inden produk mobil Toyota saat ini paling lama maksimal adalah sekitar dua bulanan. Itu pun untuk model-model mobil yang sangat spesifik, seperti Toyota Innova Venturer atau model-model dengan pilihan warna yang unik alias tidak umum.

"Misalnya warna-warna unik, merah, kuning," jelas Anton.

Kemudian terkait dengan masalah kelangkaan chip semikonduktor, Anton juga mengatakan jika masalah itu tidak memberi dampak serius kepada produksi Toyota di Indonesia.

"So far (sejauh ini) Indonesia masih cukup beruntung ya. Impact-nya nggak sebesar seperti di US atau di Jepang. Sebenarnya kalau nggak ada masalah semikonduktor, produksi kita bisa lebih cepat lagi, cuma at least (setidaknya) sekarang antara demand (permintaan) dan suplai masih kejar-kejaran lah. Nggak lebih, nggak kurang. Cukup healthy (sehat) lah," tambah Anton.

(lua/din)