Gak Mau Kalah dari Michelin, Ban Tanpa Udara Buatan TNI AD Siap Produksi 2023

Luthfi Anshori - detikOto
Selasa, 12 Okt 2021 15:18 WIB
Jakarta -

Michelin sudah memperkenalkan ban tanpa udara atau tanpa angin yang disebut Uptis (Unique Puncture-proof Tyre System), Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Kodiklat TNI AD juga ikut mengembangkan teknologi ban tanpa udara. Ban tanpa udara ini diharapkan bisa diproduksi massal pada 2023 mendatang untuk kendaraan-kendaraan militer tentara Indonesia.

Ban tanpa udara kini dilirik sebagai teknologi ban masa depan. Tak hanya dikembangkan produsen ban terkenal seperti Michelin, teknologi ban tanpa udara juga mulai dipelajari oleh TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat) sejak 2017. Lalu, sudah sejauh mana ya risetnya?

Teknologi ban tanpa udara dikembangkan oleh Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) Kodiklat TNI AD. Ban tanpa udara ini menggunakan konstruksi khusus, dengan bentuk jari-jari yang kebal terhadap tusukan dan kerusakan, sehingga diharapkan mampu mendukung kemampuan tempur kendaraan militer.

Dijelaskan oleh Komandan Poltekad Kodiklat TNI AD, Brigjen TNI Nugraha Gumilar, teknologi ban tanpa udara TNI AD terus diuji coba. Selain uji tembakan peluru, ban tanpa udara TNI AD juga melakukan pengujian di jalanan umum. Gumilar berharap ban tanpa udara ini bisa diproduksi pada 2023 nanti.

"InsyaAllah tahun 2023. Itu harapan saya. Tapi sesuai aturan, yang berhak menentukan produksi massal bukan Poltekad, tapi adalah pimpinan kami. Tugas Poltekad hanya sampai pada tahap penelitian saja," kata Gumilar, kepada detikOto Selasa (12/10/2021).

"Kalau toh ban itu sudah selesai dalam tahap penelitian, harus ada uji lanjutan sampai dapat sertifikasi. Jadi tahapnya memang masih panjang," sambung Gumilar.

Teknologi ban tanpa udara yang dikembangkan oleh TNI ADTeknologi ban tanpa udara yang dikembangkan oleh Poltekad TNI AD Foto: Dok. Poltekad Kodiklat TNI AD

Sekadar informasi, ban tanpa udara TNI AD sudah dikembangkan sejak 2017. Ban ini telah mengalami rangkaian uji coba, dan dinyatakan kebal paku dan peluru.

Pengujian tembakan ban tanpa udara TNI AD menggunakan peluru kaliber 5,56 mm, seperti yang dipakai di senapan serbu Pindad seri SS1, dan senapan serbu buatan AS, M16. Uji tembak dari jarak maksimal 100 meter. Setelah ban terkena tembakan, klaimnya ban masih tetap nyaman digunakan.

Secara mekanisme kerja, ban tanpa udara yang dikembangkan oleh Poltekad TNI AD identik dengan teknologi ban tanpa udara yang dibuat oleh pabrikan ban Michelin. Struktur ban tanpa udara terdiri dari rongga-rongga yang berperan seperti pelek pada ban konvensional.

Setelah melakukan serangkaian uji coba di area terbatas, pengujian tahap selanjutnya adalah di jalan umum. Poltekad Kodiklat TNI AD mengklaim sudah melakukan uji coba ini dan ditemui kendala.

"(Ban tanpa udara) masih dalam tahap penelitian. (Kami) sudah (uji coba di jalanan umum), tapi sistem perekatnya belum bagus, tidak tahan lam. (Jadi) perlu diteliti ulang," terang Gumilar.

Saat dilakukan uji coba pertama kali pada tahun 2017, hasilnya kurang memuaskan karena minimnya pengalaman dan kurangnya pengetahuan mengenai bahan dan material yang digunakan pada teknologi ini.

Selain itu, pada awal-awal masa pengembangan ban tanpa udara, tim riset Poltekad TNI AD masih terganjal persoalan peralatan minim dan hasil yang tak presisi karena cetakan ban dibuat secara manual. Hal itu mengakibatkan kendaraan tidak stabil dan konstruksi ban pecah.

Seiring waktu, pengembangan teknologi ban tanpa udara ini pun mulai menemui hasilnya. Kini teknologi ban tanpa udara buatan Poltekad TNI AD hasilnya lebih presisi dan sudah melewati berbagai uji coba rintangan.

(lua/lth)