Kenapa Kemenperin Ngotot Ajukan Pajak Mobil Baru 0%?

Tim detikcom - detikOto
Jumat, 25 Sep 2020 16:35 WIB
Suasana Booth Toyota
Kemenperin mengusulkan relaksasi pajak mobil baru. Ini alasannya. Foto: Dadan Kuswaraharja

Sambung Taufiek, masalah penjualan mobil setelah diterapkan relaksasi pajak mobil baru 0% pasti akan ikut naik. Tapi, yang paling penting dengan wacana kebijakan ini adalah semua sektor ekonomi bergerak.

"Jadi masyarakat tidak kehilangan pendapatan khususnya yang di ekosistem otomotif ini hampir 1,5 juta orang. Termasuk IKM-IKM (industri kecil dan menengah) yang di tier 1, tier 2, tier 3 itu juga bisa bekerja dan bergerak mendapatkan pendapatan dan dia akan konsumsikan pendapatan atau gaji yang mereka dapatkan ke belanja-belanja di sektor lain seperti sektor makanan minuman. Jadi semuanya mengalir. Jadi kalau ini segera dilakukan, maka pemulihan ekonomi kita, sektor otomotif bisa segera bangkit dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian kita," tegas Taufiek.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menambahkan relaksasi pajak mobil baru 0% ini akan menjadi stimulus pengungkit kegiatan industri otomotif. Dengan stimulus itu, diharapkan industri otomotif bangkit lagi.

"Kalau kita lihat industri otomotif manufaktur ini adalah ibarat lokomotif, gerbongnya banyak. Kalau kemudian lokomotifnya terhambat, gerbong-gerbongnya juga akan terhambat. Kalau penjualan berjalan, produksi akan berjalan," ujar Kukuh dalam kesempatan yang sama.

"Perlu dicatat bahwa saat ini kapasitas produksi kita 2,3 juta unit per tahun. Itu pun belum dioptimalkan dalam keadaan normal, baru sekitar 1,3 juta unit per tahun, 1,1 juta dipakai untuk penjualan domestik, 300 ribu diekspor. Ini yang harus kita jalankan supaya memperluas dan memperbanyak lapangan kerja. Sekitar 1,5 juta memang terlibat dalam sektor industri otomotif kita."

"Sektor otomotif ini itu termasuk 10 sektor prioritas yang berkontribusi cukup besar di dalam ekspor non-migas. Tahun ini walaupun pandemi kemudian penjualan domestiknya turun, ekspornya masih cukup bisa berjalan. Ini juga patut kita jalankan walaupun juga terkena dampak karena negara-negara tujuan ekspor pun terkena dampak COVID-19," ucap Kukuh.


(rgr/din)