Selasa, 16 Jun 2020 08:13 WIB

Penjualan Mobil Terjun Bebas, Ini Alasannya

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Penjualan Domestik Kendaraan Komersial Naik

Sejumlah mobil terparkir di Car Port Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (12/3/2018). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan bahwa penjualan domestik kendaraan komersial sampai pada 2017, 235.307 unit terbagi di antaranya truk naik 45%, pickup naik 6 persen, dan double cabin naik 46 persen. Grandyos Zafna/detikcom Penjualan mobil makin anjlok. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Penjualan mobil pada bulan Mei, ketika pandemi virus Corona (COVID-19) masih melanda Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis. Penurunannya bahkan mencapai 95%.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diperoleh detikOto dari PT Astra International Tbk, pada bulan Mei 2020, industri otomotif hanya mampu mengirim 3.551 unit mobil baru. Angka ini merosot 95% dibanding bulan Mei 2019, di mana saat itu mencapai 84.109 unit.

Angka ini merupakan penjualan berupa wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer. Banyak pabrik mobil yang tutup sementara terkait pandemi COVID-19 menjadi salah satu alasan distribusi mobil ke dealer anjlok drastis.

Sementara itu, penjualan mobil secara retail (dari dealer ke konsumen) tercatat hanya 17.083 unit. Angka itu turun 91,8% dari pencapaian Mei tahun lalu yang mencapai 94.111 unit.

"Tahun ini memang sangat-sangat berbeda dibandingkan tahun lalu, mungkin selama belakangan ini jadi pelajaran buat kita," kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi saat berbincang dengan wartawan melalui video conference, kemarin.

Menurut Anton, setidaknya ada dua hal yang membuat penjualan mobil anjlok. Yaitu karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang semakin ketat, juga karena hari kerja yang semakin sedikit.

"Bulan Mei, kondisi dari PSBB itu sudah menyebar di seluruh Indonesia dan di beberapa daerah seperti Jakarta (PSBB) full month (sebulan penuh). Jadi situasinya beda dengan April. Kedua, bahwa bulan Mei hari kerjanya lebih sedikit, banyak hari libur, kemudian fokus masyarakat walaupun tidak bisa mudik fokus masyarakat ke lebaran tetap banyak. Ini juga mengurangi waktu kerja dan market khususnya di bulan Mei," kata Anton.

Sementara itu, Anton melaporkan, penjualan mobil Toyota pada Mei secara retail sales tercatat sebanyak 6.727 unit. Dengan pasar sebesar 17.083 unit, Anton menyebut Toyota meraih pangsa pasar sebesar 39,4%.

"Memang kalau dibandingkan bulan2 sebelumnya mengalami penurunan, karena di April retail sales Toyota 8.700-an. Tapi kita juga bersyukur walaupun market berat kita bisa mempertahankan market share nomor satu dan market share 39%," sebutnya.

Soal stok mobil di dealer, menurut Anton, masih mencukupi untuk bulan ini. Memang, beberapa pabrik sudah mulai aktif kembali, tapi pabrik mobil itu kebanyakan fokus ke pasar ekspor.

"Untuk supply ke dealer (wholesales) di bulan ini belum begitu banyak. Karena stok kita di TAM dan dealer sebenarnya masih mencukupi dari jumlah secara total terhadap prediksi penjualan bulan ini," ujarnya.



Simak Video "Alasan Toyota Recall Mobil Innova dan Fortuner"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com