ADVERTISEMENT
Kamis, 22 Agu 2019 11:44 WIB

Ini Alasan Kenapa Pemerintah Ngotot dengan Elektrifikasi Mobil

Dadan Kuswaraharja - detikOto
Colokan mobil listrik Foto: Dadan Kuswaraharja Colokan mobil listrik Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta - Pemerintah mulai mempercepat program mobil listrik dengan melahirkan Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 yang baru diteken Presiden Joko Widodo awal Agustus. Ada beberapa alasan kenapa pemerintah ingin mempercepat mobil listrik.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan hal ini dilakukan untuk mengurangi tekanan impor BBM dan mengurangi efek pemanasan global.

"Belakangan di TV juga sudah mulai dipromosikan dampak polusi dari kendaraan bermotor, tapi saya rasa itu betul. Electric cars, kenapa pemerintah sangat mendorong, pertama karena ada komitmen pemerintah yang berasal dari COP, penggunaan BBM dan power minimal 23 persen dari energi terbarukan. 23 persen ini susah. Makanya kita dorong sebagai bagian dari negara besar agar ada penurunan emisi. Kita harus coba mengurangi atau menahan global warming ini maksimal 2 derajat sampai 2050 ini tantangan besar makanya kita mendorong electric cars," ujarnya di Jakarta, Rabu (21/8/2019) malam.



Meski Perpres 55 Tahun 2019 secara eksplisit menyebutkan hanya mengatur kendaraan listrik, Jonan mempersilakan produsen untuk bereksplorasi dalam jenis mobil ramah lingkungan lainnya, entah hybrid atau mobil hidrogen atau sel bahan bakar.

"Dalam Perpres memang tidak detail, nanti di peraturan terkait bakal detail yang akan dikaitkan dengan besaran emisi gas yang dihasilkan, ini akan ada hitungannya. Mau hybrid juga bisa, baterai, fuel cell, mestinya silakan, targetnya mengurangi emisi gas buang dan mendukung inisiatif climate change di seluruh dunia. Mudah-mudahan para anggota Gaikindo mendukung hal ini," ujar Jonan yang berbicara dengan para produsen mobil di Jakarta.

Jonan menambahkan saat ini Indonesia dalam posisi mengimpor BBM sehari mencapai 500-600 ribu barel dalam berbagai bentuk crude oil atau produk, dan itu harus dikurangi. "Ini mau dijaga bagaimana. Kalau ngejar produksi itu waktunya panjang, eksplorasi yang selama ini dilakukan memakan waktu panjang dan kebetulan tidak ada yang bisa menentukan apakah cadangan baik itu di dalam atau laut mengandung lebih banyak gas atau minyak," ujarnya.

Dia berjanji pemerintah akan membangun stasiun pengisian baterai untuk kendaraan. "Kita akan push, PLN sendiri akan invest banyak, jadi kekhawatirannya nggak ada. Kalau kita charging listrik di rumah malam hari, tarifnya itu akan lebih murah dibanding siang hari. itu yang jadi pemikiran kenapa kita mendorong electric cars," tutupnya.

Simak Video "Ultra Compact BEV, Mobil Listrik Imut dengan 2 Penumpang"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/dry)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com