Jumat, 16 Agu 2019 14:35 WIB

Robot Kolaboratif Sasar Industri Otomotif di Tanah Air

Ridwan Arifin - detikOto
Collaborative Robots: Co-bots Foto: Ford Collaborative Robots: Co-bots Foto: Ford
Jakarta - Universal Robots menyebut peluang industri untuk dimasuki robotik di Indonesia besar. Dalam paparannya Indonesia baru mengadopsi 5 robot dari 10 ribu karyawan, rata-rata di dunia sudah 85 unit per 10 ribu karyawan di pabrik.

"Industri otomotif adalah pengguna terbesar dari teknologi robotik selain dari industri elektronik," ujar GM Asia Tenggara dan Oceania Universal Robots, Sakari Kuikka di Jakarta.



Sebabnya, perusahaan asal Denmark mencoba hadirkan teknologi robotik lewat produk kolaborasi robot (Collaborative Robots atau Co-bots). Sakari menjelaskan cobot sangat berbeda dengan robot industri.

Co-Bots merupakan generasi mobile robot yang lebih ringan dan lebih mobile yang dapat bekerja dengan aman berdampingan dengan pekerja manusia berkat kemajuan dalam teknologi sensor dan vision.

Sakiri menyebut keunggulan yang dimiliki Co-bots, selain memiliki ruang yang lebih ringkas adalah peningkatan kualitas produk, efisiensi dari sisi penggunaan bahan baku karena tidak ada yang terbuang dan produktivitas yang meningkat.

Namun Sakari menyebut Co-bots memiliki limitasi atau batasan, dalam hal daya angkut saat ini bisa mengangkut beban maksimal 10 kg untuk aman berkolaborasi dengan manusia.

"Dari satu kasus dari konsumen Universals Robot di Indonesia yang tidak bisa disebutkan identitasnya. Mereka membeli dua robot untuk satu produk line, pada kenyataannya tidak ada sama sekali pengurangan tenaga kerja, produktivitas meningkat 30 persen. Secara row material lebih hemat karena tidak ada yang terbuang," ujar Sakari.

Sebagai contoh, dalam industri manufaktur, Co-bots bisa diprogram untuk mengerjakan pekerjaan rutin dan berulang seperti perakitan, pengecoran dan pemasangan baut. Bila masuk ke industri otomotif lebih menyasar pada pabrikan yang sifatnya supporting.

"Universal Robots konsumennya kebanyakan klien adalah second dan third tier. Jadi industri komponen dan support. Karena memang dari segi produk yang ditawarkan maksimal 10 kg. Produk ini tidak bisa menggunakan pekerjaan seperti welding dan press machine dan lain-lain," ujar Sakari.

Simak Video "AI-DA, Si Robot Multitalenta Ciptaan Universitas Oxford"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed