Minggu, 04 Agu 2019 20:10 WIB

Selain Infrastruktur, Ini Tantangan Mobil Listrik Masuk Indonesia

Rizki Pratama - detikOto
Foto: Dina Rayanti Foto: Dina Rayanti
Jakarta - Sudah banyak orang menantikan mobil listrik secara legal wara wiri di Jakarta. Bebas dari emisi memang menjadi iming-iming yang membuat mobil ini diharapkan segera menjadi andalan mobilitas masyarakat.

Sayangnya langkah menuju ke sana bukanlah hal yang mudah. Banyak aral melintang yang harus dilewati mobil ini mulai dari pertama masuk hingga nanti benar-benar digunakan secara massal.

Product Manager Jaguar Land Rover Indonesia, Tommy Handoko memaparkan setidaknya ada dua masalah yang harus diselesaikan. Pertama adalah kesiapan infrastruktur agar populasi kendaraan ini dapat terjaga.

"Memang semua, Jaguar Land Rover ke depan dan semua brand tak bisa menghindar dari elektrifikasi, Tantangannya di Indonesia pertama infrastruktur," ujarnya.



Ia mengatakan infrastruktur seharusnya menjadi tanggung jawab pihak lain yang kompeten dengan hal itu. Sedangkan Jaguar Land Rover dan merek lainnya memiliki spesialisasi membuat mobil.

"Itu bukan tanggung jawab brand untuk buat charging station. Kita buat mobil, bukan charging station. Kita harus kolaborasi dengan partner yang fokus dan spesialisasi charging station," jelas Tommy.



Masalah besar lainnya yang harus dihadapi oleh ekosistem mobil listrik adalah pengelolaan limbah baterai. Dengan usia baterai 8-10 tahun suatu saat ini jika itu menumpuk akan menimbulkan masalah limbah baru yang tentunya berbahaya bagi lingkungan hidup.

"Kedua, bukan hal yang terjadi sekarang tapi masa depan yaitu waste baterai bagaimana. Gaikindo mungkin prediksi satu juta unit mobil elektrik pada tahun pertama penjualan di Indonesia. Baterai itu sendiri bisa bertahan 8-10 tahun jadi bisa bayangkan satu juta limbah baterai 8-10 tahun ke depan harus dibuang dan harus ke mana. ini harus dipikirkan bersama tidak hanya kita sebagai manufaktur," papar Tommy.

Untuk masalah di atas, Tommy mengusulkan solusi seperti pada Belanda. Di negara tersebut limbah baterai masih bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi kebutuhan lain seperti stadion sepak bola atau rumah tangga.



"Kita nggak mau baterai ini jadi kaya plastik. Contoh konkrit di Eropa, Belanda sudah mulai menggunakan waste baterai diolah kembali untuk power stadion bola. Jadi baterai sisa bisa dipakai dengan diturunkan gradenya beda dengan mobil yang harus safe. Itu salah satu cara perpanjang umur baterai itu sendiri," pungkas Tommy.

Simak Video "Grab Masih Pertimbangkan Mitranya Gunakan Kendaraan Listrik"
[Gambas:Video 20detik]
(rip/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com