Jumat, 10 Mei 2019 14:12 WIB

Pabrikan China Berminat 'Gempur' RI dengan Kendaraan Listrik

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Foto: Bus Transjakarta listrik merek BYD, buatan China. (Fida Ul Haq/detikcom) Foto: Bus Transjakarta listrik merek BYD, buatan China. (Fida Ul Haq/detikcom)
Jakarta - Pemerintah sedang mempersiapkan segala hal agar Indonesia siap mendukung kendaraan ramah lingkungan. Salah satunya adalah kendaraan bertenaga listrik, pemerintah masih menggodok regulasinya terkait kendaraan ramah lingkungan tersebut.

Untuk mendukung kendaraan ramah lingkungan, pemerintah menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur. Hal ini bertujuan agar pelaku industri otomotif tertarik untuk berinvestasi kendaraan ramah lingkungan di Indonesia.

"Perpres sebagai payung hukum sedang diformulasikan terutama mengenai persyaratan yang akan menggunakan fasilitas insentif," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seperti tertulis dalam siaran persnya.



Pada tahap awal akan diberlakukan bea masuk nol persen dan penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor listrik.

Airlangga menyebut, pemerintah menyiapkan peta jalan pengembangan kendaraan emisi karbon rendah atau disebut sebagai Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Adapun LCEV termasuk Kendaran Hemat Energi Harga Terjangkau atau yang dikenal sebagai LCGC, Electrified Vehicle (kendaraan listrik) dan Flexy Engine (kendaraan dengan bahan bakar fleksibel/alternatif).

Beberapa pabrikan mobil maupun motor seperti Toyota, Mitsubishi, Astra Honda Motor hingga Wuling Motors Indonesia telah memamerkan proyek percontohan kendaraan listrik. Bahkan, pabrikan China lain yaitu BYD Company turut menghadirkan kendaraan listriknya di Indonesia sebelum dijual massal ke konsumen retail.



"Jika mereka melakukan prototyping dan proyek percontohan, itu berarti mereka berkomitmen untuk investasi lebih lanjut," ujarnya

Menurut Airlangga, pengembangan itu tergantung pada hasil prototipe dan kesuksesan investasi mereka di pasar domestik. "Beberapa dari mereka akan melakukan pre-marketing project, karena EV harganya 30-50 persen lebih mahal dari kendaraan mesin konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE)," tuturnya.

Soal pabrikan China, BYD disebut berminat berinvestasi di Indonesia. Rencananya, BYD akan melakukan pilot project di bidang commercial vehicles seperti bus.



"Tetapi tergantung pasarnya, kalau produsen lain, seperti Wuling dan DFSK sudah punya fasilitas sehingga lebih mudah bagi mereka untuk investasi di kendaraan listrik ini," kata Airlangga.

Mobil listrik Wuling e100Mobil listrik Wuling e100 Foto: Rachman Haryanto


Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, akan menjadi peluang besar karena industri otomotif di dalam negeri telah memiliki struktur manufaktur yang dalam, mulai dari hulu sampai hilir. "Misalnya, kita sudah punya bahan baku seperti baja, plastik, kaca, ban, hingga engine yang diproduksi di dalam negeri. Lokal konten rata-rata di atas 80 persen. Ini yang menjadi andalan ekspor kita," ucap Airlangga. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com