Sabtu, 13 Apr 2019 09:43 WIB

Pelajaran Berharga dari Kecelakaan Tol JORR, Perhatikan Kecepatan

Ridwan Arifin - detikOto
Foto: Dok. Istimewa Foto: Dok. Istimewa
Jakarta - Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Tol JORR arah Pondok Aren Jakarta, Jumat (12/04/2019) siang. Insiden ini melibatkan empat mobil hingga memakan satu orang korban jiwa.

Tabrakan beruntun itu melibatkan mobil Suzuki Ertiga bernopol B-2029-BKW, Mitsubishi Outlander bernopol B-378-BEL, Toyota Innova bernopol B-1014-WOU, dan Toyota Rush bernopol B-1546-WFX.

Menurut Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, hal ini terjadi karena Mitsubishi Outlander yang melaju kencang dari arah Jakarta menuju BSD menerobos pembatas jalan dan menabrak mobil dari arah yang berlawanan.



"Jadi begini, saya ingin memberikan background terlebih dahulu. Bahwasanya jalan tol yang kita ketahui selama ini adalah jalur bebas hambatan oleh karena itu jalur tol itu selalu lebih cepat dibandingkan jalan-jalan biasa," buka Jusri kepada detikcom melalui sambungan telepon, Jumat (14/04/2019) malam.

"Sehingga apa yang terjadi, orang akan memacu kecepatan. Faktanya di jalan tol banyak perilaku tidak disiplin," kata Jusri.

Kecelakaan itu, lanjut Jusri akibat pengemudi tersebut tidak mematuhi rambu lalu lintas, dan aturan yang sudah ditetapkan oleh undang-undang seperti ambang batas kecepatan.

"Seharusnya kecepatan di tol atau highway yang idealnya itu seharusnya konstan," tutur Jusri.

"Kalau kecepatan di tol JORR adalah minimalnya 60 km/jam, maksimalnya 80 km/jam maka perbedaan kecepatan harus disesuaikan dengan lajur, artinya begini kalau Anda membawa truk maka kecepatan Anda tetap 60 usahakan tetap konstan, tetapi kalau Anda membawa kendaraan non truk maka kecepatan maksimal Anda 80 km, minimal 60 km," ungkap Jusri.



"Selalu kita lihat adalah ketidakdisiplinan terhadap penggunaan jalur, di mana ada orang yang seharusnya pengemudi ada di jalur lambat dia berada di jalur cepat, ada orang yang berada di jalur cepat, dia menggunakan bahu jalan sehingga dengan demikian akan membuat kecepatan yang variatif,"ungkap Jusri.

"Disiplin, sehingga kecepatan konstan itu terjaga, dan tertib lajur akan mengurangi kecelakaan," ujar Jusri.

"Kemudian seharusnya pengguna jalan tol tertib lajur, mengingat jalan tol itu risikonya besar sekali. Ketika kecepatan tinggi mobil itu mudah sekali hilang kendali, saat mobil hilang kendali dan menabrak benda-benda yang menabrak atau objek yang ada di jalan tol, impact kerusakannya itu fatal. Contoh seperti kasus ini," jelas Jusri.

Ia juga menghimbau agar para pengguna kendaraan bermotor tidak hanya melihat aturan sebagai pajangan semata. Lebih lanjut lagi, bahwa kesadaran akan keselamatan diri sendiri dan orang lain adalah dasar yang terpenting.

"Pertama adalah tertib berlalu lintas, dengan tertib penggunaan lajur. Lajur tengah adalah lajur normal, lajur menyalip adalah yang paling kanan, lajur bahu jalan sebagai lajur emergency, komitmen ini yang harus dijaga," ungkap Jusri.

"Banyak sekali tol di luar negeri seperti model yang ada di JORR. Cuma masyarakat di sana sudah disiplin, sudah saatnya sekarang kita bergerak dengan disiplin dan tertib berlalu lalu lintas, karena tertib ini adalah kebutuhan," tegas Jusri.

Terakhir, Jusri berpesan bahwa paradigma kecelakaan bukanlah karena nasib yang kurang baik. Bila dipikir kembali, kematian akibat kecelakaan kebanyakan akibat kecerobohan dari pengguna jalan, pun demikian banyak faktor yang menyebabkan di belakangnya.

"Kecelakaan itu adalah gagalnya strategi, keselamatan itu bukan it's a matter of good luck. Keselamatan itu strategic semuanya terencana, jadi kecelakaan itu bukan apes, itu yang harus dirubah paradigma masyarakat," ungkap Jusri.

"Orang yang mengalami kecelakaan karena gagal mengantisipasi. Mungkin karena meremehkan bahaya, meremehkan aturan atau dia tidak fokus, melakukan pekerjaan lain ketika berkendara misalnya menggunakan hp. Jadi penyebab kecelakaan itu banyak sekali," pungkas Jusri.



Simak Juga 'Mobil dan Motor Kini Punya Fitur Keamanan yang Canggih, Apa Saja?':

[Gambas:Video 20detik]

(riar/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com