Kamis, 14 Mar 2019 07:45 WIB

Orang RI Masih Bisa Terima Kalau Harga Mobil Naik Rp 5 Juta

Dina Rayanti - detikOto
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Kenaikan harga mobil masih sering dikeluhkan oleh para konsumen. Harga mobil sendiri sudah pasti mengalami kenaikan tiap tahun karena biaya BBN. Besaran kenaikan harganya pun bervariasi. Kalau mobil masih didatangkan utuh dari luar alias impor CBU (Completely Build Up) nilai tukar dolar terhadap rupiah pun sangat berpengaruh.

Ketika nilai tukar terhadap dolar tinggi, maka bisa jadi harga mobil pun naik. Harga mobil pun tak mungkin turun meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat.


Mobil yang digarap secara lokal pun bisa saja naik karena nilai tukar dolar. Masih ada beberapa komponen yang didatangkan pabrikan dari luar. Meski begitu, kenaikan harga mobil dengan besaran tertentu masih bisa diterima orang Indonesia.

"Saya pernah ditanya kenaikan harga berapa yang bisa ditoleransi kalau tidak lebih dari Rp 5 juta itu aman di market, LCGC , LMPV, kalau yang mobil mahal naik Rp 5 juta mungkin bagi mereka nggak terasa," jelas Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto saat berbincang dengan detikcom.

Soal penentuan harga mobil memang tidak bisa asal-asalan. Setiap pabrikan memiliki formulanya sendiri dalam menentukan harga mobilnya. Salah-salah menentukan harga bisa jadi mobil tidak laku.


Strategi harga juga bisa dipilih oleh pabrikan untuk menembus ketatnya persaingan penjualan mobil di Tanah Air. Strategi tersebut dipilih oleh pabrikan China Wuling dan DFSK. Keduanya menawarkan mobil dengan harga lebih murah dibandingkan kompetitornya.

Padahal kalau bicara fitur keduanya pun tak kalah dengan para pesaingnya. (dry/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com