Selasa, 05 Mar 2019 17:47 WIB

'Mobil Listrik Tidak Sepenuhnya Ramah Lingkungan'

Ridwan Arifin - detikOto
Ilustrasi proses pembuatan nuklir Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Coba keluar dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil semakin santer digaungkan pabrikan otomotif dunia, karena dinilai kurang oke berkat karbon dioksida yang dihasilkan. Kendaraan berbasis listrik disebut sebagai langkah solutif untuk menanggulangi polusi dan mengurangi emisi karbon.

Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan sejalan dengan arah pemerintah yang mengedepankan roadmap kendaraan listrik untuk mengurangi dampak lebih besar dari perubahan iklim dan pengurangan emisi gas buang.



Namun menurutnya, saat ini kendaraan listrik belum belum benar-benar menghasilkan low carbon emission. Mantan Kepala BATAN melihat hal tersebut dari sumber energi yang disalurkan masih ketergantungan dengan bahan bakar fosil.

"Yang benar mobil listrik itu ramah lingkungan? isi ulang energinya dari mana itu?," kata Djarot kepada detikOto saat berbincang di kantor BATAN, Tangerang, Banten.



"Sering kita tertipu bahwa mobil listrik ramah lingkungan. Menurut saya tidak, karena sumber listriknya sendiri masih menggunakan batu bara kok," sambung Djarot.

Pandangan Djarot, kendaraan listrik baru benar-benar ramah lingkungan bila menggunakan sumber bahan bakar yang tidak mengeluarkan emisi karbon juga, dari teknologi nuklir misalnya. "Kelebihan nuklir, emisi low carbon nyaris tidak ada," kata Djarot.

Ia menuturkan bila tidak dimulai sekarang, Indonesia makin ketinggalan, memang untuk membangun reaktor nuklir butuh biaya besar di awal namun memiliki segudang manfaat dibelakangnya, tidak hanya untuk sumber energi listrik.



"Untuk membangun PLTN sendiri paling cepat 8 tahun, investasi juga cukup besar. Banyak perusahaan yang merahasiakan, sebagai asumsi di Dubai membutuhkan dana sekitar Rp 70 triliun untuk membangun satu reaktor nuklir," kata Djarot.

Terlebih Indonesia sendiri sudah menandatangi Paris Agreement untuk menyongsong era yang lebih hijau.

"Kita (Indonesia) punya komitmen sendiri kan melalui Paris Agreement. Saya dukung itu, kita ingin mengurangi emisi karbon 29 persen di tahun 2030 dengan upaya sendiri, dan 41 persen dengan mereduksi emisi karbon dengan kerjasama internasional," tutur Djarot.

"Tapi apakah kita bisa melakukan ini tanpa nuklir? misson imposible. 2030 berapa tahun lagi?," tutup Djarot. (riar/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com