Sabtu, 02 Mar 2019 13:12 WIB

Selain Mobil Listrik, Indonesia Siapkan Kendaraan Bioetanol

Rizki Pratama - detikOto
Mesin Toyota tipe R-NR, mesin bensin yang bisa menggunakan bahan bakar ethanol. Foto: Agung Phambudhy Mesin Toyota tipe R-NR, mesin bensin yang bisa menggunakan bahan bakar ethanol. Foto: Agung Phambudhy
Jakarta - Menghadapi menipisnya ketersediaan energi fosil sebagai bahan bakar, banyak alternatif energi yang saat ini sedang dikembangkan. Sebut saja energi listrik, hidrogen, serta kombinasi bahan bakar solar dengan kandungan nabati (biosolar).

Saat ini Indonesia sendiri telah menggunakan bahan bakar jenis Flexi engine yang memungkinkan penggunaan bahan bakar campuran seperti biodiesel. Selain itu Kementerian Perindustrian juga berencana untuk mengembangkan bahan bakar alternatif lain berbahan utama ethanol.



"Kita akan mengembangkan flexi engine baik itu untuk etanol maupun biodiesel. Ini akan kita dorong," ujar Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian RI, Putu Juli Ardika saat ditemui Kantor Kementerian Perindustrian pada Rabu (27/2/2019).

Putu yakin bahan bakar bioetanol bisa dikembangkan dengan baik di Indonesia karena biaya investasi yang lebih murah dibandingkan dengan pengembangan baterai kendaraan listrik. "Ini investasinya tidak sebesar electric vehicle, dan kita bisa menjadi tren global dalam penggunaan bahan bakar ini," lanjut Putu.

Namun di saat kendaraan listrik yang sedang mencoba berkenalan dengan masyarakat Indonesia, beberapa pemain industri otomotif mengalami ketakutan kendaraan bermesin bioetanol akan mematikan pertumbuhan kendaraan listrik. Putu dari Kemenperin menyikapi dengan mengatakan biaya insentif bioetanol tidak akan sebesar insentif yang akan diberikan pada kendaraan listrik.



"Pengembangan ini sempat ditakutkan oleh teman-teman di Gaikindo karena akan mematikan industri mobil listrik yang baru saja berkembang. Karena investasinya kecil dan jika diperlakukan sama dengan Electric Vehicle maka akan jadi predator mereka," ungkap Putu.

Putu menyadari masyarakat Indonesia masih kurang sosialisasi penggunaan kendaraan listrik. Oleh karena itu saat ini insentif untuk mobil listrik akan diberikan seperti penyesuaian pajak.

"Kita akan harmonisasi pajak bagaimana kendaraan listrik bisa terjangkau oleh masyarakat dengan memberikan dispensasi luxury tax," pungkas Putu.

Jadi nanti insentif bioetanol itu lebih kecil dibandingkan dengan kendaraan listrik. Kendaraan listrik itu mahal baterainya, di samping itu sosialisasinya di masyarakat masih kurang dan akan sulit diterima jika nanti insentif bioetanol sama atau lebih besar. (rip/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed