'Punya Mobil China, Tukar Tambah ke Mobil Jepang Bakal Nombok Banyak'

Ruly Kurniawan - detikOto
Kamis, 28 Feb 2019 11:45 WIB
Ilustrasi mobil bekas Foto: dok detikOto
Jakarta - Perlahan namun pasti, mobil China mulai jadi pertimbangan masyarakat Indonesia ketika ingin membeli mobil keluarga. Contoh saja Wuling Motors (Wuling), yang hanya dalam waktu dua tahun sudah menduduki merek mobil nomor ke-6 terlaris di Indonesia.

Namun memiliki mobil China saat ini masih memiliki hambatan. Salah satunya adalah saat ingin menjualnya kembali (resale value) atau tukar tambah dengan mobil selain China, dalam hal ini mobil Jepang.



"Merek China itu memiliki marketnya sendiri. Dia pun masih memiliki hambatan seperti purna jual, resale value juga, dan lainnya. Oke misalkan mobil bisa dibeli dengan harga Rp 150 juta, nanti kalau mau jual kembali akan jadi berapa itu (penurunan harganya)," ucap Direktur Pemasaran dan Purnajual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy di Ancol, Jakarta.

"Mau nambah Rp 200 juta lagi gitu buat tukar model baru (mobil dari Jepang-Red)? Bakal nombok banyak (rugi). Anda itu satu garis, China ya ke China. Tidak bisa kemana-mana," lanjut dia.



Tapi, kata Jonfis lagi, bila merek China itu serius menggarap pasar Indonesia dengan menghadirkan line-up mobil yang panjang dan purna jual baik maka akan berbeda.

"Kecuali dia punya line-up terus, panjang. Itu beda," jelas Jonfis.



Tonton juga video Kiprah Mobil China di Indonesia:

[Gambas:Video 20detik]

(ruk/lth)