Perguruan Tinggi Bukan Pabrik Mobil Listrik

Ridwan Arifin - detikOto
Senin, 04 Feb 2019 10:51 WIB
Mobil listrik Blits garapan mahasiswa Indonesia. Foto: dok. Blits
Jakarta - Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak 2012. Banyak pihak yang melibatkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini diharapkan agar pengembangan mobil listrik nasional lekas terealisasi.

"Sudah lima perguruan tinggi yang melakukan penelitian kendaraan listrik sejak 2012, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Universitas Sebelas Maret, dan ITS," ujar Penasihat Khusus Menteri Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Kemenko Bidang Maritim, Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro di BSD, Tangerang.



Dalam pemaparannya, Satryo menyebut dua lembaga BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga ikut melakukan penelitian.

Pemerintah melalui Kemenristekdikti dan LPDP mengucurkan dana pengembangan kendaraan listrik mencapai US$ 10 juta atau sekitar Rp 141 miliaran.

Namun Satryo kembali menekankan bahwa pihak kampus saat ini hanya sebatas pengembangan. Yang diperlukan, tentunya ada sokongan dari industri untuk terciptanya mobil listrik nasional.



"Sudah saya bilang perguruan tinggi bukan pabrik tapi tugasnya hanya development, dia bukan pembisnis jadi tugas selanjutnya industri (produksi). Ditargetkan produksi massal 2020 (mobil listrik nasional)," tuturnya.

Satryo menambahkan statusnya saat ini masih prototipe dan uji prototipe.

Lebih lanjut, Satryo mengungkapkan bahwa industri yang telah berkolaborasi bersama perguruan tinggi dalam pengembangan kendaraan listrik itu tidak hanya BUMN seperti Pertamina, Pindad, PLN, tetapi sejumlah industri swasta. (riar/rgr)