Hal ini diungkapkan oleh Penasihat Khusus Menteri Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Kemenko Bidang Maritim, Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro di dalam diskusi yang diadakan oleh Masyarakat Konservasi & Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) di BSD, Tangerang, Rabu, (30/01/2019).
"Jadi kami semua berangkat dari starting point yang sama, jadi semua sudah bisa memulai. Ini harus dimulai sekarang jangan lagi ditunda-tunda," ujar Satryo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mesin hybrid, kita tidak pernah bisa mulai, karena teknologinya belum pernah kita kuasa selama ini (mesin ICE), dan lebih rumit dibanding listrik berbasis baterai," ungkap Satryo.
Tak hanya itu, Satryo melanjutkan selama ini pabrikan Jepang merakit mobilnya di Indonesia namun sayangnya tidak mentransfer teknologi, sehingga Indonesia hanya bisa merakit saja.
"Selama ini, pabrikan Jepang tak pernah kasih kita teknologinya, tak ada alih teknologi. Padahal berapa tahun mereka sudah di sini dan tak pernah di kasih sama sekali," tutur Satryo kepada wartawan.
"Mahasiswa saya tidak pernah bisa bikin mobil di sana, karena hanya assembly saja dia di sana, teknologinya yang punya semua Jepang dia tak pernah kasih sama sekali, kita hanya boleh merakit saja," tambah Satryo. (riar/dry)












































Komentar Terbanyak
Asosiasi Ungkap Biang Kerok 'Krisis Ojol' di Jakarta: Biaya Aplikasi Dipotong Gede!
Katanya Dikembalikan, Gubernur Kaltim Kok Pakai Range Rover Berpelat KT 1?
Provinsi Ini Bolehkan ASN Mudik Pakai Mobil Dinas, Asalkan Bukan buat Pamer