Kamis, 30 Agu 2018 14:42 WIB

Begini Cara Angkut Mobil ke Kawasan Pegunungan Papua

Ruly Kurniawan - detikOto
Foto: Sigit Arifianto
Jakarta - Bagi warga Kabupaten Pegunungan Bintang, Oksibil, Papua, mobil merupakan kendaraan mewah. Untuk membawa satu unitnya saja ke garasi, mereka harus mengeluarkan kocek yang setara dengan mobil kelas menengah, Rp 500 juta. Hal itu dikarenakan akses pengiriman ke tempat tersebut masih sangat sulit.

Dijelaskan oleh seorang mantan tenaga pengajar yang pernah berdinas di wilayah tersebut, Sigit Arifianto. Biaya angkut semahal itu karena mobil dibawa menggunakan helikopter carteran dari Jayapura.

"Biasanya jika ukuran lebih besar dan tidak bisa dimasukkan ke dalam badan helikopter, mobil akan diangkut menggunakan sling dan tergantung di luar. Begitu juga alat-alat berat untuk pembangunan di Pegunungan Bintang," tulis Sigit di akun Instagramnya.


Dirinya juga memperkirakan perhitungan ongkos yang musti dikeluarkan dalam sekali pengiriman menggunakan helikopter sewaan tersebut.

"Alat berat yang dibeli hanya Rp 1 miliar. Namun biaya angkutnya mencapai Rp 5 miliar. Belum biaya material seperti semen 1 sak saja bisa mencapai Rp 1,5 juta," ungkap Sigit.

"Bisa dibayangkan betapa besar biaya yang perlu dikeluarkan untuk membangun infrastruktur umum disana," tambahnya.



Selanjutnya, untuk BBM jenis premium sendiri, dijual Rp 50-60 ribu/liter. Air kemasan gelas kecil Rp 15 ribu, sedang Rp 25 ribu, sampai 1 ekor ayam Rp 100-150 ribu.

"Geografis di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang memang cukup berat sementara transportasi menuju ke sana saat ini hanya bisa menggunakan pesawat perintis dan helikopter. Itulah juga yang membuat segala keperluan ataupun barang-barang di Oksibil harganya selangit," papar Sigit.

Jadi jangan heran kalau tukang ojek sebulannya bisa menghasilkan Rp 40 juta ya, Otolovers.


"Terimakasih atas upaya pemerintah pada tahun 2020 jalur Tanah Merah-Oksibi akan terhubung, bagian dari trans Papua. Karena itu Masyarakat Papua di Pegunungan sangat berharap agar pemerintah pusat bisa terus melanjutkan usaha untuk membuka jalur darat tersebut. Jika logistik bisa menggunakan jalur darat, maka harga-harga tidak lagi akan semahal seperti saat ini dan pembangunan akan berjalan jauh lebih cepat," tutupnya.

[Gambas:Instagram]

(ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com