Menanggapi hal tersebut, salah satu anggota Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kurnia Lesani Adnan yang juga memiliki Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) meminta agar Pemerintah realistis. Sebab, keputusan tersebut berbanding terbalik akan perkembangan teknologi kendaraan di Indonesia sekarang.
"Saat ini kami menggunakan solar B10 dan harus sering mengganti filter BBM lebih cepat dari jadwal yang di rekomendasikan oleh pabrikan (15.000 km). Bisa dibayangkan kalau kita lalai sedikit saja bahayanya seperti apa," kata Sani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara memasuki 2020 pemerintah mencanangkan standar Euro 4. Saat ini bus berstandar Euro 2 saja sudah kesulitan akan solar B10.
"Kami minta pemerintah bersikap realistis dalam membuat kebijakan. Saat ini supply BBM solar sudah mulai langka. Seperti di Bengkulu bus kami antri mulai jam 7:00 baru dapat diisi pukul 16:00. Apa yang di harapkan pemerintah?" tutur Sani dari PO SAN Putra Sejahtera. (ruk/lth)













































Komentar Terbanyak
Mobil Listrik China Murah-murah, Kok Suzuki Pede Jual e Vitara Rp 755 Juta?
Penjualan Mobil di Indonesia Nyaris Disalip Malaysia, Menperin: Ini Alarm!
Bikin Harga Tambah Mahal, Mobil di Bawah Rp 1 Miliar Diusulkan Tak Kena PPnBM