Kamis, 12 Jul 2018 14:38 WIB

Bagaimana Cara Ban Diproduksi?

Akfa Nasrulhak - detikOto
Ban Hankook Foto: Rachman Haryanto Ban Hankook Foto: Rachman Haryanto
Cikarang - Produsen ban Korea, PT Hankook Tire Indonesia membuka lebar-lebar pintu pabrik mereka di Cikarang, Bekasi. Pabrik yang dibangun di area seluas 60 hektar ini menyerap sekitar 1.852 karyawan lokal dan sekitar 20 diantaranya tenaga ahli dari Korea.

Ke depannya pabrik ini akan memperluas hingga 5 fase pembangunan, saat ini baru sampai fase kedua. Target penyerapan tenaga kerja hingga fase terakhir sekitar 4.200 karyawan. Pabrik ini beroperasi 24 jam dengan pembagian 3 shift dan 4 group.

Pabrik ban Hankook 100% menggunakan bahan karet alam lokal Indonesia. Bahan karet yang digunakan tidak hanya dari alam, namun karet sintetis juga digunakan, tetapi hanya untuk tipe kendaraan sedang atau kendaraan penumpang.

Pabrik ban HankookPabrik ban Hankook Foto: Rachman Haryanto


Para wartawan diajak mengelilingi pabrik dengan memasuki area pertama ban mentah yang masih berupa lembaran karet. Suasana di dalam pabrik cukup panas dengan aroma karet menyerbak di seluruh ruangan.

Pembuatannya diawali dengan melakukan mixing, yaitu proses pembauran bahan baku. Setelah itu ke bagian extruding, yaitu untuk membuat pelapisan tapak ban dan dinding ban. Tampak di kanan kiri mesin-mesin yang sedang melakukan pencetakan kawat-kawat yang dijadikan lapisan, adapun kawat tersebut impor dari Korea.

Pabrik ban HankookPabrik ban Hankook Foto: Rachman Haryanto


"Jadi ini sudah dilapisi oleh kawat baja, kawatnya double. Kawatnya ini impor dari Korea, setelah itu masuk ke proses pelapisan lembaran karet dengan kawat baja sama tekstil, biar agak lentur," ujar Public Relation and Plant Management Team, Ade Mahendra saat menjadi pemandu touring pabrik PT Hankook Tire Indonesia.

Di seberang area lembaran karet terdapat mesin pembentuk ban yang disebut mesin assembling yang akan mengolah karet menjadi berbentuk bulat seperti adonan kue donat. Mesin tersebut diciptakan dan diimpor langsung dengan hak cipta dari Korea. Uniknya mesin tersebut bekerja secara otomatis untuk memilih spesifikasi bahan karet yang telah ditentukan.

"Mesin Assembling ini ada 150 unit, setiap unit bisa menghasilkan 1.000 ban. Jika bahan tidak sesuai spesifikasi maka otomatis mati sendiri," ujar Ade.

Ban yang keluar dari mesin itu masih terasa lengket ketika disentuh karena masih mentah. Setelah itu ban ditampung terlebih dulu, dan diproses sekitar 2 hari dan dimatangkan dengan sistem first in first out.

Ban-ban tersebut kemudian dibawa ke mesin cetak panas untuk pematangan. Suhu di ruangan ini mulai terasa lebih panas bahkan ban-ban yang keluar dari mesin cetak masih mengeluarkan asap dan tidak boleh disentuh pekerja pabrik. Suhu yang digunakan untuk pematangan berkisar 160 derajat celcius.

Mesin cetak itu mampu menyelesaikan satu unit ban dalam waktu 1 hingga 12 menit tergantung ukuran ban. Dalam kondisi panas tersebut, tidak lupa ban langsung didinginkan dengan hidrogen agar tidak mengubah tekstur.

Dari mesin cetak, ban-ban yang masih cukup panas dibawa ke tempat pengecekan fisik manual di mana para pekerja pabrik untuk mengecek keseimbangan dan pola serta hal lain sebgainya.

Setelah itu ban akan masuk satu per satu ke mesin pengecekan otomatis yang menggunakan mengecek lingkar dan memastikan bentuk ban bundar sempurna, tidak benjol apalagi oval.

Di sisi mesin pengecekan terdapat tumpukan ban yang dianggap perlu dicek ulang atau dibatalkan karena adanya kekurangan seperti cacat atau kotor dan kondisi tidak layak lainnya.

Pabrik ban HankookPengecekan kualitas ban di pabrik ban Hankook Foto: Rachman Haryanto


"Di sini ditunjukkan ban-ban yang scrap, misalnya ban yang kotor ada batunya atau ada kerikil tidak terlihat karena ada kotoran saat ban berada di mesin pencetak," kata Ade.

Ban yang lolos seluruh pengecekan kualitas akan dikumpulkan sesuai dengan ukuran kemudian disusun untuk didistribusikan.
Produk ban yang dihasilkan oleh Hankook nantinya sebagian besar masih untuk kebutuhan ekspor ke kawasan Timur Tengah, Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Asia Tenggara juga untuk memenuhi pasar domestik di dalam negeri. (ddn/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed