Selasa, 10 Jul 2018 19:59 WIB

Soal Mobil Listrik, Gaikindo: Kuasai Dulu Teknologi Baterai

Akfa Nasrulhak - detikOto
Mobil Listrik Toyota Foto: Agung Pambudhy Mobil Listrik Toyota Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai ada beberapa hal yang harus dilalui dalam pengembangan mobil listrik. Salah satunya adalah fokus untuk bisa memproduksi komponen-komponen utama mobil listrik, salah satunya bisa memproduksi baterai.



Seperti yang disampaikan Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi, dalam mobil listrik terdiri dari empat komponen utama yakni baterai, motor penggerak, pengatur listrik dan tentu rangka mobil yang bisa menyelipkan baterai. Dari keempat komponen tersebut Nangoi menyebutkan, bahwa yang paling mahal adalah baterainya.

Untuk itu Nangoi berharap Indonesia bisa memproduksi baterai mobil listrik sendiri, meski ada tantangan besar untuk mewujudkannya yaitu Indonesia tidak memiliki bahan baku baterai lithium. Karena sumber daya alam lithium yang ada di dunia didominasi oleh China, Jepang dan Korea.



"Kita tidak bisa menemukan bahan baku untuk baterai lithium di Indonesia, kecuali menemukan teknologi untuk membuat baterainya," ujar Nangoi.

Nangoi berharap Indonesia bisa mengembangkan teknologi baterai selain lithium ion. Karena dirinya menilai, baterai lithium ion baterai umurnya tidak panjang. Selain itu setelah 10 tahun harus sudah didaur ulang.



Karena baterai lithium ion masih mengandung bahan berbahaya, dan saat ini di dunia yang hanya bisa mendaur ulang baterai tersebut hanya negara Belgia saja dan biayanya sangat besar.

"Sayangnya, limbah baterainya juga akan di-kemana-kan. Jadi kalau Indonesia mau bikin mobil listrik, ayo kuasai dulu teknologi baterai. Mudah-mudahan bisa buat baterai sendiri di Indonesia, tetapi itu harus melalui riset yang mendalam" jelasnya.



Sebagai gambaran, Nangoi mengatakan saat ini di seluruh dunia setiap tahun ada kendaraan 97 juta unit mobil terjual baik konvensional maupun elektrik. Indonesia sendiri rata-rata 1,1 juta unit per tahun. Mobil listrik full baterai sendiri hanya terjual 465 ribu unit atau sekitar 0,5 persen, dari 97 juta unit kendaraan yang terjual.

Indonesia sendiri melalui Kemenperin berencana Indonesia akan memiliki kendaraan listrik hingga 20 persen pada 2025. Nangoi juga berharap dari riset yang melibatkan perguruan tinggi di Indonesia dapat menciptakan inovasi untuk kemajuan teknologi untuk menjadi pemenang di industri global. (lth/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed