Rabu, 23 Mei 2018 15:16 WIB

Mobil Listrik

Soal Mobil Listrik Indonesia Jangan Lari Sendirian

Ruly Kurniawan - detikOto
Mobil listrik Mitsubishi i-MiEV Foto: Rengga Sancaya Mobil listrik Mitsubishi i-MiEV Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia meminta pemerintah tidak gegabah menerapkan aturan mobil listrik. Indonesia harus melihat juga arah perkembangan mobil listrik di Amerika, Jepang dan Eropa.

Itulah yang dipaparkan oleh pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) ketika berbicara tentang mobil listrik di tanah air dan penerapannya.

Menanggapi semangat pemerintah dalam menerapkan mobil listrik, Gaikindo sangat mendukung. Tapi jangan gegabah untuk melangkahkan kaki kesana, sebab Indonesia bukan tonggak utama dalam dunia otomotif. Jadi, selain menyiapkan aturan mobil listrik Indonesia juga perlu memperhatikan arus negara-negara penggerak otomotif lainnya.



"Di 2020 nanti, 20 persen kendaraan di Indonesia harus meliputi Low Emission Vehicle seperti hybrid, plug-in-hybrid, ataupun elektrik (listrik). Itulah sebenarnya yang diarahkan oleh pemerintah. Target ini saya dukung, namun tergantung support dari pemerintah juga seperti peraturannya. Misalkan saja pajak mobil hybrid yang masih tinggi, aturan mobil elektrik yang belum ada karena dia bukan menghitung cc (di Indonesia masih tergantung dari besaran cc kendaraan), inilah yang harus kita benahi. Bereskan dahulu aturan mainnya," ucap Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi kepada wartawan di Jakarta.

"Kita juga harus melihat perkembangan karena Indonesia bukan pemimpin dari dunia otomotif. Pemimpin otomotif ada di Amerika, Jepang, Korea, sampai Jerman. Kita harus melihat mereka mau lari kemana. Jangan sampai kita lari sendiri dan malah tidak sejalan dengan mereka," katanya lagi.



Maka paling cocok untuk menerapkan mobil listrik di Indonesia adalah bertahap. Tapi infrastruktur dan payung hukumnya terus dibenahi seiring perkembangan tersebut. Jangan langsung melompat untuk menerapkan kendaraan listrik secara penuh dan mematikan mobil konvensional.

"Di India saja ia ralat (untuk menghentikan penjualan mobil konvensional dan menggantinya dengan mobil listrik). Memang ada beberapa negara yang sudah ke arah sana seperti Belgia, tapi harus dilihat bahwa mereka bukan negara yang penghasilannya otomotif, dia hanya pemakai dengan sekitar 7 sampai 8 juta penduduk. Ia pun tak ada dampaknya. Tapi kalau di Indonesia, bila hal ini diterapkan investor tidak ada yang mau masuk. Jadi jalanlah dengan alamiah tapi tetap support dengan fasilitas dan peraturannya," tutup Nangoi. (ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed