Minggu, 20 Mei 2018 16:16 WIB

Melirik Kiprah Mobil Merek Nasional Timor yang Sempat Laris di RI

Dina Rayanti - detikOto
Mobil Timor. Foto: Dok. Istimewa Mobil Timor. Foto: Dok. Istimewa
Jakarta - Otolovers masih ingat mobil Timor? Mobil ini sempat laris pada eranya yakni tahun 1997-1998. Timor bahkan disebut-sebut sebagai mobil nasional.

Timor hadir karena keinginan mantan presiden Soeharto untuk membuat mobil nasional pada awal tahun 1990an. Ia kemudian membuat aturan soal pajak impor mobil.

Melansir Oppositelock, Minggu (20/5/2018), dalam aturan tersebut salah satu di antaranya berbunyi produsen manapun yang mau menjual mobilnya di Indonesia tanpa dikenakan pajak impor maka setidaknya 60 persen komponen mobil haruslah buatan Indonesia.


Bahkan Toyota Kijang yang saat itu menjadi mobil terlaris tak bisa memenuhi persyaratan tersebut. Tahun 1990 pajak impor bahkan mencapai 300 persen, membuat harga mobil yang didatangkan dari luar negeri harganya bisa selangit.

Kala itu, salah satu anak Soeharto Hutomo Mandala Putra atau biasa dikenal dengan Tommy Soeharto memunculkan ide untuk membuat mobil Indonesia dengan harga murah.

Tommy memang diketahui memiliki hobi di dunia otomotif dan mengoleksi sejumlah mobil mulai Lamborghini, Audi dan beberapa merek lain.

Membuat mobil tak bisa sembarangan, setidaknya harus ada ahli yang benar-benar mengerti. Misalnya saja seseorang dari Austin yang pergi ke Jepang saat membantu Jepang memulai industri otomotifnya tahun 1950-an.

Tommy kemudian dengan bantuan pengusaha Setiawan Djody membangun perusahaan di Bermuda yang dinamakan Megatech. Kemudian ia memutuskan untuk membeli Lamborghini tahun 1994 dengan maksud dipelajari. Tommy dan Setiawan mendapat bantuan dari Vector Aeromotive karena Setiawan diketahui memiliki 57 persen saham di Vector.


Tommy dan Djody menginginkan membuat mobil coupe sport layaknya Lamborghini namun dengan mesin berkapasitas 1.000cc.

Pada tanggal 19 Februari 1996, Tommy kembali membuat perusahaan yang disapa PT Timor Putra Nasional (TPN). Timor sendiri merupakan singkatan dari Teknologi Industru Mobil Rakyat. Nah saat itu Timor dikabarkan akan meminjam desain dan teknologi dari Lamborghini.

Namun, 28 Februari 1996, Soeharto meminta Menteri Ekonomi Indoneia yang saat itu dijabat Tungky Ariwibowo untuk mempercepat pengembangan mobil nasional Indonesia. Ia bahkan rela untuk menggelontorkan sejumlah uang demi terwujudnya mobil nasional Indonesia. Banyak perusahaan berminat untuk membantu membuat mobil di Tanah Air untuk mendapatkan suntikan dana tersebut, namun rupanya Timor lah yang dipilih.

Keputusan itu kabarnya membuat kecewa beberapa pihak bahkan sekelas Toyota dan Suzuki. Alasannya sederhana, Timor tak memiliki prototipe mobil sama sekali.

Tungky kemudian memberi tahu Timor setidaknya Timor harus memproduksi 15.000 mobil pada bulan September 1996. Kalau Timor gagal, maka mereka harus mengembalikan uang pinjaman dari pemerintah tersebut.


Perusahaan Tommy ini kemudian dengan cepat membangun pabrik mobilnya di kawasan Cikampek. 8 Juli 1996, Timor mulai mengenalkan model S515 yang ternyata hanya me-rebadged mobil Korea Selatan Kia Sephia. Tommy yakni mobil bisa dijual 70.000 unit per tahunnya.

Target tersebut terbilang cukup besar untuk pemain baru sekelas Timor. Pasalnya pasar mobil di Indonesia kala itu hanya 150.000 unit per tahunnya. Di bulan yang sama, mobil sudah bisa dipesan dan pengiriman baru dilakukan bulan September.

Konsumen Indonesia tak banyak pilihan saat akan membeli mobil Timor karena hanya ada satu warna saja yang ditawarkan yakni metalik dengan harga US Dolar 250 atau saat itu di kisaran Rp 35 jutaan.

Banyak nada miring yang mengatakan Timor bukanlah mobil nasional Indonesia yang sesungguhnya karena hanya mengganti logo Kia dengan Timor. Kia disebut sebagai satu-satunya yang mau menjual mobilnya di Indonesia tanpa emblem Kia. Selain Kia ada Lada dan Khodro asal Iran yang juga masuk dalam radar Tommy dalam proyek mobil nasionalnya ini.

Kia Sephia yang di re-badged jadi Timor.Kia Sephia yang di re-badged jadi Timor. Foto: Istimewa


Meski didatangkan dari luar, Timor dijual dengan harga murah karena dibebaskan dari pajak-pajak dan bea lainnya yang biasa dikenakan pada mobil-mobil lain yang dijual di Indonesia. Namun Kia Sephia yang dijual di Indonesia ini tak memiliki fitur seperti Airbag dan ABS padahal di negara asalnya fitur tersebut ada.


Timor dituding berbohong dan mengaku kalau mobil dibuat di Korea dengan menggunakan tenaga kerja asal Indonesia. Kemudian Timor digugat ke WTO (World Trade Organization) oleh perusahaan Jepang. Perusahaan Jepang tersebut menang dan WTO memutuskan agar Indonesia mencabut keputusan penghapusan bea masuk dan pajak barang mewah mobil Timor.

Setelah krisis ekonomi Asia yang menyebabkan Kia Motors pada tahun 1997 bangkrut (pada tahun 1998 dibeli oleh Hyundai), dan keruntuhan rezim Soeharto, maka proyek Timor juga ditutup.

Berdasarkan data distribusi milik Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mobil Timor ini cukup laris. Bahkan di tahun pertamanya merangsek ke posisi 6 besar penjualan mobil di Indonesia tahun 1997 sebesar 19.471 unit atau lebih besar dari Nissan yang hanya 9.037 unit.

Masih dalam data yang sama, Timor tampak ada dalam data Gaikindo terakhir pada tahun 2008 yakni sebesar 4 unit saja. (dry/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed