Jumat, 18 Mei 2018 03:18 WIB

Mobil Murah Tak Selamanya Laris di Indonesia, Ini Buktinya

Dina Rayanti - detikOto
Renault Kwid untuk pasar Indonesia. Foto: Rangga Rahadiansyah Renault Kwid untuk pasar Indonesia. Foto: Rangga Rahadiansyah
Jakarta - Mobil dengan banderol harga miring pastinya menjadi daya tarik tersendiri buat mereka yang ingin membeli mobil namun budgetnya pas-pasan. Tapi itu tidak menentukan kalau mobil dengan harga murah bisa laris manis.

Mobil dengan kisaran Rp 100 juta tanpa embel-embel Low Cost Green Car (LCGC) Renault Kwid misalnya. Meluncur pertama kali tahun 2016 Kwid kurang diminati masyarakat Indonesia.


Penjualannya tidak cemerlang. Melihat data distribusi wholesales milik Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sepanjang Januari-April 2018 hanya 24 unit Kwid yang laris di pasaran. Padahal, harga jualnya cukup bersaing dengan model LCGC lain.

Mobil mungil merek Eropa yang didatangkan dari India itu dijual di kisaran harga Rp 117,7 juta saat pertama kali dikenalkan. Namun mengalami kenaikan di kisaran Rp 1-2 jutaan setahun setelahnya.

Artinya, harga Kwid masih bersaing dengan mobil LCGC lain yang juga memiliki harga di kisaran tersebut bahkan mencapai Rp 150 jutaan.


Penjualan Kwid dengan mobil LCGC lain bagaikan langit dan bumi. Sebagai perbandingan, LCGC terlaris Toyota Agya selama empat bulan pertama tahun 2018 ini sudah terjual 21.535 unit.

Secara singkat bisa disimpulkan, harga jual murah mobil belum tentu menjadi faktor penentu mobil itu akan laris.

Bagaimana Otolovers, setuju? (dry/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com