Jumat, 20 Apr 2018 09:17 WIB

Kalau Sudah ada Pabrik, RI Jadi Pusat Produksi Hyundai di ASEAN

Ruly Kurniawan - detikOto
Hyundai meluncurkan Santa Fe di IIMS 2018 (Foto: Ruly Kurniawan) Hyundai meluncurkan Santa Fe di IIMS 2018 (Foto: Ruly Kurniawan)
Jakarta - Wacana pendirian pabrik di kawasan Asia Tenggara, yakni Indonesia dan Vietnam oleh Hyundai Motor Company (HMC) kembali mencuat. Khusus untuk RI, disebutkan proses sudah masuk tahap finalisasi.

Itulah yang dipaparkan oleh Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia Mukiat Sutikno. Kalau sudah bisa diselesaikan dalam waktu dekat, Indonesia akan jadi pusat produksi mobil Hyundai di kawasan ASEAN.

"Saya katakan, Hyundai Motor Company Korea sudah berbincang dengan Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto dan sekarang statusnya masih memfinalisasi. Tapi saya harapkan hasilnya akan baik. Presiden kita, Pak Jokowi juga nanti ada rencana ke Korea juga. Moga-moga ada kabar yang lebih baik," paparnya kepada wartawan di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018, JI Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (19/4/2018).

"Indonesia adalah negara di ASEAN yang berpotensi otomotifnya meningkat sangat tinggi. Maka, kalau pabrik diputuskan Indonesia bakal jadi production base di ASEAN," tambah Mukiat.



Meskipun beberapa tahun ke belakang pasar otomotif cenderung menurun, tambahnya, Indonesia dinilai memiliki kemampuan dan potensi paling tinggi se-ASEAN dalam hal dunia otomotif. Berdasarkan sejarah, pernah negeri ini perolehan penjualan mobilnya meningkat drastis, tiga kali lipat dalam setahun.

"Kalau untuk pasar ASEAN yang memang otomotifnya tumbuh jauh lebih besar ya Indonesia. Memang, 4 sampai 5 tahun kemarin stagnan dan bahkan sedikit turun. Tapi jangan menganggap ini jelek karena memang ekonomi dunia juga sedang turun. Setelah infrastruktur beres, Indonesia bakal loncat seperti tahun 1998 dulu," ujar Mukiat.

Pada tahun 1998, saat sedang krisis, pasar otomotif di Indonesia melesu hingga hanya mampu mencetak penjualan mobil sebesar 68.000 unit. Namun setahun kemudian meningkat jadi 99.000 unit. Di tahun 2000, ada lonjakan penjualan mobil hingga 3 kali lipat di Indonesia, 300.000 unit/tahun.



"Availability-nya akan tinggi. Ekspor juga akan meningkat bila pabrik di Indonesia sudah dibangun. Pak Jokowi juga kan untuk industri diharapkan mampu mengekspor secara CKD, selain CBU," ucap Mukiat.

"Supplier komponen di Indonesia sudah cukup membaik sekarang. Meski belum cukup (600-an)," tutupnya. (ruk/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed