Berita Otomotif Terbaru Dalam Dan Luar Negeri
Selasa 07 November 2017, 13:46 WIB

Sulitnya Mobil Amerika Tembus Pasar Jepang

Dina Rayanti - detikOto
Sulitnya Mobil Amerika Tembus Pasar Jepang Foto: Dadan Kuswaraharja
Tokyo - Mobil-mobil merek Jepang sudah diketahui keunggulannya di beberapa negara. Terbukti mobil-mobil merek Jepang tersebar penjualannya di seluruh dunia.

Berbeda dengan pabrikan mobil Amerika yang juga sudah diketahui sebagai negara produsen mobil terbesar ketiga di dunia, mobil-mobil ternama buatan AS justru sulit menembus pasar mobil Jepang.

Melansir Carscoops, Selasa (7/11/2017), mobil merek Jepang terhitung mendominasi 90 persen penjualan mobil di sana dan itu berkat hubungan yang baik antara konsumen dan diler. Dari sebuah laporan Atlantic, cara diler di Jepang membangun hubungan baik dengan konsumennya adalah dengan membawa mobil demo ke rumah si konsumen, menawarkan jasa cuci mobil gratis seumur hidup, asuransi, dan berbagai tawaran lain.

Fasilitas seperti itu membuat merek Jepang dominan di rumahnya sendiri. Terlebih merek mobil Amerika tak memiliki pelayanan yang sama kepada konsumennya.

Di Amerika sendiri, mobil buatan lokal memang masih mendominasi namun porsinya tidak besar. GM, Ford, dan FCA saja pangsa pasarnya tercatat 45 persen sementara merek Jepang terhitung 39 persen.

Sebenarnya isu ini sudah mencuat lama untuk politisi. Kala itu, Presiden Trump mengatakan Jepang membuat para produsen mobil AS kesulitan menjual mobilnya di sana. Para produsen AS pun mengeluhkan hal yang sama yakni kebijakan proteksi Jepang terhadap produk-produk yang jualan di sana seperti inspeksi mobil yang lebih lama menjadikan mereka kesulitan menembus pasar Jepang.

Tapi itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa warga Jepang ogah membeli mobil buatan luar negeri. Sebagai contoh tidak ada tarif impor yang dikenakan pada mobil sementara mobil buatan AS dan Eropa masing-masing dikenai 2,5 persen dan 10 persen. Para pabrikan Amerika juga ragu untuk berinvestasi besar-besaran di jepang.

"Cara orang Jepang membeli mobil sangat berbeda. Itulah sebabnya mengapa produsen mobil AS tak memperluas jaringan dilernya di Jepang," ungkap Executive Director of Asian Trade Center Deborah Elms.

Merek Ford, mislanya, sudah hengkang dari Jepang karena hanya menjual 5.000 unit mobil dalam waktu setahun dan GM hanya memiliki 28 diler di Negeri Sakura itu karena hanya menjual 1.000 unit mobil pada tahun 2016.

Konsumen-konsumen Jepang menginginkan pelayanan seperti gratis biaya perawatan dari diler dan mobil bisa diambil bengkel, dibetulkan, dan dikembalikan ke konsumen. Butuh biaya yang tidak sedikit membangun diler semacam itu.

Tapi tak semua merek luar Jepang mengalami kesulitan di sana. Mobil-mobil dari Eropa, contohnya, justru mengalami peningkatan antara tahun 2013 dan 2016 dengan 251.115 mobil, sementara mobil AS turun 15 persen pada periode yang sama menjadi 19.933 unit mobil saja.

BMW dan Mercedes mencatatkan hal yang cukup manis dengan peningkatan masing-masing sebesar 60 persen dan 23 persen antara tahun 2012 dan 2016. BMW mengaku memang salah satu kunci berjualan di Jepang adalah keramahan kepada konsumennya.

"Di Jepang, yang penting adalah keramahan kepada konsumennya," kata CEO BMW Group Jepang Peter Kronschnabl. (dry/rgr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed