Seperti yang diberitakan bangkokpost, Amerika Utara menjadi market terbesar kedua sebanyak 461.550 unit dan Eropa berada posisi ketiga dengan penjualan sebanyak 138.856 unit.
Namun untuk daerah Asia-Oceania, Honda hanya menjual mobil listriknya hingga 56.252 unit, berbanding jauh dengan kawasan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Hachigo mengatakan tantangan lain saat ini adalah menemukan cara memangkas biaya produksi mobil listrik, agar harganya bisa terjangkau untuk seluruh konsumen.
"Pada tahun 2030, mobil listrik sebagian besar terdiri dari HEV (Hybrid Electric Vehicle) dan PHEV (Plug-in Hybrid electric vehilce), sementara BEV (Battery Electric Vehicle) dan FCV (Fuell-cell Vehicle) hanya akan bertambah sedikit, karena masih bergantung pada infrastruktur seperti stasiun pengisian bahan bakar dan bahan bakar hidrogen," tuturnya.
"Di Asia dan Oceania, Honda harus bekerjasama dengan pemerintah di masing-masing negara mengenai infrastruktur tersebut dan juga pemasok OEM lainnya," tambah Hachigo.
Untuk itu, lanjut Hachigo. Melihat volume penjualan yang tidak besar di kawasan Asia-Oceania, Honda berencana memperluas pasar di kawasan tersebut dengan mobil hibrida. (khi/lth)










































