"Kalau desainer Eropa itu dia bener-bener penajaman dari aspek estetiknya, visualnya, proporsinya, eye catching, serius gitu yah, intens dia. Dan bahakan untuk menjaga estetika itu banyak juga dilakukan desainer-desainer yang sebenarnya bukan desainer in house, diambil dari luar apa lagi untuk nyari desain yang fresh," tutur dosen Desain Indsutri di Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, di Jakarta.
"Jadi orang pertama kali melihat wajahnya dulu, tampak depan. Dan orang ga pernah melihat tampak depan persis yah, cenderung melihat agak miring diagonal, posisinya orang berdiri. karena kan dengan adanya dimensi, jarak, otomatis ada efek persepektif kan, distorsi visual. Nah Eropa jagonya disitu," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Rangga Rahardiansyah |
Sedangkan untuk Asia, Jepang khsusunya. Menurut Yannes banyak yang sudah benar dalam memilih desainer dari Eropa untuk mendesain produk-produknya. Namun sayangnya desain tersebut diubah oleh desainer asli produsen tersebut.
"Sehingga yang tadinya desain ini keren dan inovatif, begitu ditaro ke in house (desainer asli produsen), rasanya mengalami penurunan kualitas inovasi visual," ucapnya.
Penurunan kualitas tersebut dikatakan Yannes banyak faktor yang mempengaruhinya.
"Karena kan kalau desainer in house itu, dia udah tahun ke tahun selalu bergulung di hal yang sama. Artinya dinamikanya turun gitu. dan di dunia manufactur kan selalu kejar tayang, otomatis kreativitasnya juga kurang fresh," ungkapnya.
"Makanya kita lihat beberapa desain yang tadinya digarap desainer terkenal untuk produk Jepang, begitu didevelop oleh desainer in house, drop," tambah Yannes.
(khi/ddn)












































Foto: Rangga Rahardiansyah
Komentar Terbanyak
Pasutri Ngerokok di Motor sambil Bawa Bayi-Ditegur Ngamuk, Endingnya Begini
Mobil China Bikin Mata Konsumen Indonesia Jadi Terbuka
Kenapa Pemotor yang Ngerokok Susah Dibilangin?