Vice President Director of Marketing and Sales PT Nissan Motor Indonesia, Davy J Tuilan mengatakan, kemungkinan pengembangan mobil baru tersebut selalu ada. Tapi sayangnya, Davy belum bisa membeberkan secara detail.
"Saat ini belum ada inisiatif yang detail. Pasti yang namanya aliansi itu akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keuntungan kedua pihak," kata Davy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa banyak merek yang berharap untuk berkolaborasi, itu karena skala ekonomi. Misalnya kalau kita beli speaker untuk mobil, kalau beli sebulan 15.000 pcs, dengan sebulan 1.000 pcs, harga speakernya beda. Itu yang namanya skala ekonomi. Itu impact yang bisa langsung dinikmati baik untuk Nissan maupun Mitsubishi," ujar Davy.
Tapi, untuk penjualan masing-masing perusahaan itu tetap berjalan sendiri-sendiri. Hal itu sama seperti aliansi Nissan dengan Renault.
"Mengenai strategi ke depan, yang jelas arahan sekarang ini divisi sales marketing sama seperti Nissan dan Renault, nanti Nissan dan Mitsubishi jalannya masing-masing. Tapi di back of business, baik dari segi logistik, dari sisi skala ekonomi, dan lain-lain itu bisa saling memanfaatkan," katanya.
Di negeri asalnya, Nissan dan Mitsubishi selama ini sudah bekerja sama dalam memasarkan dan memproduksi mobil. Mitsubishi memproduksi mobil untuk Nissan. (rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Warga Ngeluh Bayar Pajak Kendaraan Dipersulit, 'Nembak' KTP Asli Rp 700 Ribu
Diborong Proyek MBG, Desain Motor Listrik Emmo Baru Didaftarkan Akhir Tahun Lalu
Spesifikasi Motor Listrik Buat Operasional MBG, Harga Mulai Rp 49 Jutaan