Berbeda dengan sekolah menengah atas lainnya, SMA Selamat Pagi Indonesia memang ditujukan untuk anak-anak tidak mampu, para yatim atau piatu atau yatim piatu di seluruh Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua. Hebatnya lagi, untuk bersekolah di sini, siswanya tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis.
Karena sekolah yang berdiri di Jalan Pandanrejo No.1 Bumiaji, Batu Jawa Timur memiliki impian anak-anak bangsa yang tidak mempunyai biaya pendidikan dapat menerima pendidikan secara gratis (free education cost) dengan layak sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945, dengan harapan anak-anak bangsa sebagai generasi penerus mempunyai kemampuan dalam membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa SMA ini memiliki nama Selamat Pagi Indonesia? Kami berharap anak-anak yang kami terima adalah anak-anak yang tidak mampu, yatim piatu dan akan menjadi seperti matahari baru yang memberikan harapan-harapan baru," ujar Wakil Kepala Sekolah, Didik TriAnggono.
Didik kembali menjelaskan di depan para risers, bahwa SMA Selamat Pagi Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang sama dengan SMA umum lainnya, dengan menggunakan kurikulum K13 mulai tahun depan. Namun yang membedakan dengan sekolah lainya, para siswa juga akan mendapat bekal untuk menjadi seorang penguasaha yang bisa berdikari.
"Tempat ini awalnya SMA, SMA ini sama seperti SMA umumnya tahun depan pakai K13. SMA ini didirikan oleh seorang penguasaha Julianto Eka Putra asal Surabaya. Dirinya mendirikan sekolah memang untuk orang tidak mampu, sehingga tidak memungut biaya apa pun. Tahun 2000 mereka memiliki visi ini, 2005 peletakan batu pertama, dan 2006 penerimaan guru," ujar Didik
"Awal berdiri dengan 30 anak berasal dari Sumatera hingga Papua. Dalam penerimaan kami membaginya berdasarkan kuota daerah, kuota agama dari 5 agama. Sekarang kami menerima 80 siswa, dengan total 200 siswa. Para siswa dan siswi diajarkan harus mandiri. Akhirnya kami mengeksplor keahlian mereka, dan Alhamdulillah para siswa dan siswi kini memiliki 12 divisi usaha. Karena setiap siswa ini memiliki keahlian bermacam-macam, akhirnya diajarin bagaimana berbisnis," tambahnya.
Siapa yang menyangka para siswa dan siswi yang awalnya dipandang sebelah mata bisa menikmati pendidikan secara gratis, dan menghasilkan miliaran rupiah dari 12 divisi usaha mereka.
"Penghasilan tahun lalu dari usaha para siswa mencapai Rp 12 miliar, tahun ini pendapatannya sudah kami hitung mencapai Rp 14 miliar. Usaha ini pun langsung dikendalikan oleh para siswa, dan siswa yang telah lulus langsung menjadi head atau manager di divisi usaha mereka. Dan para siswa yang telah lulus mengajari junior mereka. Dan setiap tahun, kami selalu melakukan studi banding ke luar negeri. Seperti Singapura, Macau, Hongkong, pergi menggunakan kapal pesiar, Malaysia, Thailand, dan negara lainnya," tambahnya.
Perjuangan yang gigih dari para siswa-siswi tidak mampu ini begitu menggugah hati para peserta Datsun Risers Expedition. Karena ketulusan seorang penguasaha yang menyediakan sekolah gratis bagi siswa yang tidak mampu bisa menghasilkan cikal bakal bangsa yang hebat dan tangguh.
Hal inilah yang membuat para Risers, berkeinginan untuk bisa mengikuti jejak langkah Julianto Eka Putra untuk bisa berbagi dengan sesama, atau bisa memanfaatkan diri sendiri untuk membantu orang lain atau antarsesama.
"Jadi yang pertama saya sangat kagum dan bangga sama sekolah ini. Jadi seperti sekolah menjadikan dana-dana CSR menjadi lebih produktif dibidang enterpreuner, intinya semoga Pak Julianto dan dewan guru diberi kesehatan dan diberkati Allah. Satu lagi ada keinginan berbagi saya menginginkan media menyalurkan charity dari semua orang," ujar riser asal Jakarta, Jawi.
Hal senada juga diucapkan risers asal Malang, Fikri yang mengatakan sekolah ini bergerak dibidang sosial terhadap anak-anak yatim piatu dan tidak mampu.
"Ini yang membuat dirinya berbeda. Setelah berjalannya waktu, sekolah ini bisa berdiri dan berkelanjut menjadi sukses. Intinya orang hidup harus bisa saling berbagi. Ini sangat bagus tidak memandang suku dan agama. Ya semoga banyak sekolah seperti ini juga dan gratis," kata Fikri.
Fikri pun menambahkan, dirinya sangat ingin berbagai atau mendirikan sesuatu layaknya SMA Selamat Pagi Indonesia.
"Pasti ingin lebih berbagi dan memiliki pemikiran sosial. Kebetulan saya sekolah perikanan, jadi saya berniat akan memiliki sesuatu di lembaga perikanan. Seperti memberikan sesuatu yang terbaik untuk nelayan atau pebudi daya," tambahnya. (lth/rgr)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!