Supercar memiliki spesifikasi yang berbeda dibanding mobil biasa. Dengan tenaga dan torsi yang lebih besar, kemampuan mengemudi juga menantang para penggunanya.
Terkait perlukah SIM untuk para pengguna supercar, dijelaskan pebalap Indonesia yang berkompetisi di Ferrari Challenge, Renaldi Hutasoit sebenarnya yang paling mendesak yakni pola pikir dari pengendaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Renaldi juga menyayangkan banyak para orangtua yang memberikan supercar pada anak-anaknya. Ia menilai anak-anak tersebut sebenarnya belum siap secara mental untuk mengendarai supercar dan membahayakan.
"Yang saya ga habis pikir kalau ada orangtua yang membelikan anaknya umur 20 tahun supercar. Kasih orang yang sudah sanggup handle secara mental. Banyak pemilik supercar yang nge-trek tapi biasa saja karena mindsetnya lebih dewasa," ujarnya.
Dibanding SIM khusus supercar, Renaldi justru menyarankan perlunya SIM khusus motor berkapasitas besar di Indonesia. Ia memaparkan motor dengan cc besar memerlukan keterampilan yang cakap saat dikendarai.
"Motor lebih perlu karena jauh lebih sulit dikendalikan. Beda antara motor yang 100 cc dengan 1.000cc. Motor 1.000 cc di gigi 3 top speednya 220 km/ jam. Gigi 1 sudah 120 km/jam. Jadi disini gigi 1 saja cukup. Motor lebih berbahaya," tutupnya. (nkn/lth)












































Komentar Terbanyak
Diklakson Gegara Lane Hogging, Sopir Yaris Ngamuk-Ngajak Ribut
Lawan Arah di Malaysia Didenda Rp 60 Juta, di Indonesia Cuma Rp 500 Ribu
Modal Peluit, Jukir Liar di Minimarket Bisa Dapet Rp 9 Juta/Bulan