"Kami sih memberikan pilihan cara pembayaran secara bertahap dan kredit. Tapi ternyata, yang membayar secara kredit itu prosentasenya sangat-sangat kecil. Ini bisa dilihat tahun lalu, ada yang membeli secara bertahap, tapi itu pun dalam waktu singkat. Dua hingga tiga kali termin pembayaran," tutur Chief Executive Officer Maserati Indonesia, Fransiska Renata, di Denpasar, Bali, Selasa (6/9/2015).
Sementara, yang membayar secara kredit sangat sedikit, dan itu pun dengan tenor yang terbilang singkat, yakni satu tahun dan selama 16 bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangkaian kebijakan itu, kata Fransiska, memang tak membuat kemampuan daya beli mereka hilang atau menurun drastis. Namun, calon konsumen yang umumnya para pebisnis itu lebih memilih memikirkan roda bisnis mereka.Β
Maklum, untuk ekspansi bisnis mereka juga enggan. Sementara, pilihan yang paling rasional adalah menyimpan dana mereka. Padahal, dengan hanya menyimpannya di bank, perputaran dana tersebut tak berkembang maksimal.
"Karenanya, banyak diantara mereka yang lebih memilih menunggu, termasuk menunggu saat yang tepat membeli kendaraan," ucap Fransiska.
Oleh karena itu Fransiska berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi yang ada saat ini. Soalnya, dengan kondisi yang terjadi saat ini justru kontraproduktif dengan tujuan untuk menggenjot perolehan pendapatan dari pajak.
"Ya karena orang enggak jadi membeli, maka PPnBM, dari bea masuk impor, pajak-pajak lainnya seperti bea balik nama, pajak kendaraan juga berkurang kan?," kata dia.
(arf/ddn)











































Komentar Terbanyak
Penjelasan Polisi soal Alphard yang Terobos Zebra Cross di HI Nunggak Pajak
Wujud Mobil Keciduk Isi BBM Subsidi Berulang dalam Sehari, Pakai QR Code Beda-beda
Pernyataan BYD Soal Seal Terbakar di Cikampek