"Ya, kami tentunya harus melakukannya (penyesuaian harga). Namun, untuk melakukan ini kami secara cermat berdasar riset yakni dicari cara bagaimana besaran dan cara penyesuaian itu tidak memberatkan konsumen," papar Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Amelia Tjandra, di Maratua, Kalimantan Timur, Minggu (20/9/2015) malam.
Hanya, dia tak bersedia menyebut angka besaran kenaikan yang dimaksud, dengan alasan besaran itu disesuaikan dengan kondisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dalam kondisi pasar yang turun 19-20 persen seperti saat ini, faktor persaingan dengan merek lain juga patut dipertimbangkan. Amelia tak menampik, nilai tukar rupiah terhadap dolar yang ada saat ini telah jauh melampaui asumsi kurs yang ditetapkan pihaknya beberapa waktu lalu.
"Iya, asumsi kurs dolar yang ditetapkan perusahaan kalau enggak salah Rp 11.500 - 12.000, saya agak lupa persisnya, tapi di kisaran itu. Nah, sekarang kan sudah jauh melebihi itu," ucapnya.
Dengan perbedaan asumsi kurs dan kenyataan yang ada itu, pendapatan perusahaan diakuinya juga ikut menciut.
"Tapi, kondisi seperti ini juga dialami semua perusahaan. Enggak hanya kami saja," sebutnya.
Maklum, beberapa material dan komponen mobil hingga saat ini masih diimpor. Setidaknya, beberapa bahan komponen yang dipasok oleh suplier berbahan impor. Sehingga, tak sedikit dari pemasok juga terkena imbas kenaikan nilai tukar. Meski demikian, lanjut Amelia, penjualan Daihatsu terus digenjot, walau hasilnya tak sebanyak tahun lalu. Saat ini penjualan rata-rata 1.300 - 1.400 Unit.
Sementara, hingga Agustus lalu, penjualan telah mencapai 9.742 unit. βYa karena pasar sekarang kan memang mengecil ya. Jadi memang menurun," kata Amelia.
(arf/ddn)












































Komentar Terbanyak
Asosiasi Ungkap Biang Kerok 'Krisis Ojol' di Jakarta: Biaya Aplikasi Dipotong Gede!
Provinsi Ini Bolehkan ASN Mudik Pakai Mobil Dinas, Asalkan Bukan buat Pamer
Sewa Rp 160 Juta/Bulan, Segini Harga Mobil Land Rover yang Dipakai Wali Kota Samarinda