Instruktur Safety Driving dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Boy Falatehansyah mengatakan, tingkat kewaspadaan anak-anak di bawah umur untuk turun ke jalan tidak ada. Soalnya, tingkat kewaspadaan yang menjadi salah satu soft skill adalah hal yang paling penting untuk berkendara di jalanan umum.
"Sedangkan kendaraan bermotor itu merupakan killing machine. Untuk itu yang harus diimbau adalah orangtuanya. Ya orangtuanya harus jadi poros, tolok ukur dari anak itu sendiri," kata Boy saat berbincang dengan detikOto ketika ditanya soal kampanye #nodrivingunder17.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena anaka-anak itu tingkat kewaspadaan mereka tidak ada. Sangat minim referensi, mereka kan tidak ngerti harus bagaimana. Kedua tingkat emosi atau tingkat kebijakan mereka sangat minim. Referensi mereka minim. Soft skill mereka jauh lebih minim. Justru kebanyakan anak kecil itu malah lebih memikirkan hard skill. Soal soft skill justru mereka tidak tahu sama sekali adanya soft skill," kata Boy.
Lalu, apa saja yang dimaksud dengan soft skill?. Boy menjelaskan, soft skill itu adalah tentang pemahaman seseorang terhadap risiko berkendara. Jadi, orang yang sudah memiliki soft skill, pasti mereka sudah tahu bagaimana memanajemen risiko.
"Kedua adalah yang dinamakan perilaku, kita mengemudi secara defensive. Defensive driving itu berbeda dengan safety. Safety itu misalnya kita sudah pakai helm, sarung tangan itu safety. Tapi kalau di jalan, yang dibutuhkan bukan hanya safety lagi, karena kita sudah masuk medan perang. Sama kayak halnya tentara, tentara pakai helm, senjata, boots, itu safety kan. Tapi saat dia masuk medan perang yang dilakukan adalah defensive (bertahan). Itu sama halnya dengan berkendara. Jalan raya bisa dikatakan medan perang," jelas Boy.
Sebaliknya, saat berkendara di jalan raya, hard skill bukanlah nomor satu. Sudah banyak contoh kecelakaan di jalan yang melibatkan orang dengan hard skill yang mumpuni.
"Jadi orang yang punya skill yang bagus, experience-nya begitu banyak, kayak pebalap tapi meninggal di jalan raya, itu ada. Itu menandakan mereka tidak memiliki pola pikir yang bijak. Jadi di jalan raya adalah sikap kita harus bisa memanajemen risiko, kedua adalah bagaimana kita menaruh empati dalam berkendara di jalan raya. Itu yang tidak dimiliki anak-anak di bawah 17 tahun," tutup Boy.
(rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
BBM Shell Kosong, Bahlil: Negara Nggak Cuma Ngurus 1 Kelompok!
Viral Istri Ketinggalan di Rest Area saat Mudik, Diantar Polisi Naik Moge
Sindir Mobil Gubernur Rp 8 M, Prabowo: Mobil Presiden Saja Rp 700 Juta