Seperti dilansir Reuters, Kamis (21/5/2015), pernyataan Departemen Transportasi dan Lembaga Keselamatan Jalan Raya Nasional (NHTSA) Amerika Serikat menyebut, mobil yang ditarik itu ditengarai menggunakan airbag Takata yang bermasalah baik airbag untuk pengemudi atau penumpang. Mobil-mobil itu merupakan buatan dari 11 pabrikan dari berbagai negara.
Sebelumnya, jumlah mobil yang ditarik karena masalah itu di Negeri Paman Sam mencapai 16,6 juta unit. Namun, setelah dianalisa kembali dan disimpulkan ada kemungkinan model lain yang dilengkapi airbag Takata juga memiliki risiko serupa, maka dilakukan perluasan penarikan.
Walhasil, jumlah mobil yang ditarik pun bertambah menjadi 34 juta unit. Sehingga total jumlah mobil yang ditarik secara global sejak 2008 mencapai 53 juta unit.
Pihak berwenang di Amerika Serikat menyebut, airbag Takata yang bermasalah – yakni mengembang secara berlebihan yang kemudian meledak dan serpihannya mengenai tubuh pengemudi dan penumpang mobil – telah menyebabkan korban enam orang tewas. Akibat peristiwa itulah, lembaga itu meminta mobil yang menggunakan kantung udara itu ditarik.
"Kami sangat senang telah mencapai kesepakatan dengan NHTSA, yang merupakan jalan yang jelas untuk menuju ke masa depan,” tutur Chief Executive Takata, Shigehisa Takada.
Namun, perusahaan tak menyebutkan apakah penarikan juga diperluas ke wilayah di luar Amerika Serikat.
Memang, penarikan yang dilakukan Takata di Negeri Paman Sam, merupakan hasil desakan kuat dari NHTSA, meski sebelumnya pabrikan itu menolak mengakui ada cacat di airbag produknya.
Akibat perluasan penarikan tersebut tiga produsen mobil asal Jepang, yakni Jepang Toyota Motor Corp, Nissan Motor Co Ltd dan Honda Motor Co Ltd juga melakukan perluasan penarikan model buatannya. Mereka menyatakan, penarikan dilakukan karena pihaknya telah menemukan inflator airbag tidak tertutup dengan benar.
Kondisi itu diyakini memungkinkan embun merembes ke casing propelan. Jika itu terjadi maka propelan berpotensi meledak dengan kuat, dan serpihan komponen-komponen itu menyebar dan mengenai orang yang berada di dalam mobil.
Akibat kejadian seperti itu pula, sedikitnya enam orang pemilik mobil Honda tewas. Pabrikan itu juga harus menanggung ganti rugi kepada keluarga korban serta biaya perbaikan jutaan mobil yang ditarik. Bahkan, akibat penarikan itu pula, akhir bulan lalu Honda mengatakan keuntungannya pada tahun ini bakal tergerus.
Menteri Transportasi Anthony Foxx juga memerintahkan Takata untuk bekerjasama dalam proses penyelidikan atas masalah itu. Sedangkan NHTSA menegaskan, pihaknya juga memprioritaskan penggantian inflator airbag yang rusak.
Penggunaan wewenang secara tegas oleh NHTSA dan Departemen Transportasi itu merupakan yang pertamakalinya sejak tahun 2000 yakni sejak Undang-undang TREAD diberlakukan. “Kami tidak akan berhenti bekerja hingga semua inflator diganti,” tegas Foxx.
Foxx bersama administrator NHTSA, Mark Rosekind, memang agresif dalam menangani isu-isu keselamatan otomotif. Pada hari Senin (18/5/2015) lalu NHTSA telah mewanti-wanti Fiat-Chrysler Automobile agar mematuhi peraturan yang ada dalam hal airbag ini.
Lembaga itu menegaskan, pihaknya bisa saja menerapkan beberapa hukuman dan menggelar audiensi publik untuk memeriksa 20 penarikan yang dilakukan oleh FCA dan telah mempengaruhi 10 juta mobil lainnya.
Pada Februari lalu, NHTSA telah menetapkan denda bagi Takata sebesar US$ 14.000 atau sekitar Rp 182 juta per hari kepada Takata Corporation jika tak bekerjasama dalam penyelidikan kasus airbag tersebut.
Meski, penerapan denda itu akhirnya diskors dulu, karena Takata menyatakan kesediaannya.
Sementara, President of Valient Market Research, Scott Upham, mengatakan biaya penarikan akibat airbag Takata itu akan dibebankan kepada produsen airbag dan mobil. Nilainya, diperkirakan mencapai US$ 4 – 5 miliar atau sekitar Rp 52 – 65 triliun.
(Arif Arianto/Dadan Kuswaraharja)










































