Jaguar: Kami Masih Aktif Jualan Mobil di Indonesia

Jaguar: Kami Masih Aktif Jualan Mobil di Indonesia

- detikOto
Kamis, 09 Apr 2015 09:53 WIB
Jaguar: Kami Masih Aktif Jualan Mobil di Indonesia
Jakarta - PT Grand Auto Dinamika selaku agen pemegang mereka Jaguar Land Rover di Indonesia membantah kegiatan penjualannya saat ini istirahat alias mati suri. Meski begitu, mereka tak menampik jika kinerja penjualan tengah menghadapi tantangan berat karena faktor perekonomian dan kondisi politik.

β€œKami tegaskan, kami tidak mati suri. Kegiatan pemasaran, penjualan, dan lain-lain di diler kami terus berjalan seperti biasa,” tutur Marketing Communication Manager GAD, Tryfena Sri Rahajoe kepada detikOto, di Jakarta, Kamis (9/4/2015).

Tryfena juga menegaskan, semua diler Jaguar baik di Jakarta maupun di Surabaya juga masih memajang model-model terbaru Jaguar. β€œDi Jakarta kami mempunyai tiga diler dan satu diler di Surabaya. Kegiatan di semua diler masih berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berkurang, malah mungkin bertambah,” paparnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, dia mengklaim kegiatan pemasaran tidak hanya di kota-kota besar dimana diler berdiri. Para tenaga pemasaran juga membidik calon konsumen yang berdomisili di luar kota yang bersangkutan. Maklum, calon pembeli potensial mobil Jaguar juga tak sedikit yang bermukim di luar kota.

β€œJumlah mereka cukup banyak. Jadi itu salah satu bukti bahwa kegiatan kami masih aktif bahkan meningkat,” tuturnya.

Memang, sepanjang 2014 lalu penjualan Jaguar Indonesia mengalami penurunan sekitar 20 persen, dan akhirnya penjualan hanya 50 unit. Namun hal itu bukan dikarenakan faktor produk yang kurang diminati atau masalah internal perusahaan.

β€œKekhawatiran calon pembeli terhadap situasi politik karena berbarengan dengan pemilu legislative dan presiden, menjadikan mereka wait and see. Tapi saya kira ini menjadi fenomena umum yang dihadapi industri otomotif, apalagi ada tax (PPnBM) yang naik,” papar Tryfena.

Kondisi seperti itu juga masih dirasakan hingga saat ini, terlebih nilai tukar rupiah terhadap dolar yang masih loyo dan kondisi politik yang penuh kegaduhan.

β€œTapi, yang perlu dicatat, memang biasanya saat Januari dan Februari penjualan mobil itu masih lesu. Sedangkan kalau faktor pajak itu hanya shock sesaat saja bagi konsumen, paling dua bulan juga sudah adaptasi,” ucap Tryfena.

(arf/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads