Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Memukul Dunia Otomotif

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Memukul Dunia Otomotif

- detikOto
Rabu, 17 Des 2014 16:17 WIB
Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Memukul Dunia Otomotif
Surabaya - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah, bahkan sempat hampir menyentuh Rp 13.000 per dolar AS. Kondisi nilai tukar rupiah yang tidak stabil, bakal berdampak pada dunia otomotif.

"Dolar begini terus, inflasi juga tinggi, pasti ada dampaknya pada otomotif," ujar Direktur PT United Motors Center (UMC) Prabowo Liegangsaputro kepada wartawan di sela-sela acara Media Test Drive Karimun Wagon R GS, Rabu (17/12/2014).

Ia mengatakan, dampak dolar AS hampir terjadi di semua negara, termasuk yang terasa berat seperti di Indonesia, India maupun Rusia. Untuk menyiasati melemahnya nilai tukar rupiah, pihaknya akan menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus meningkatkan kulitas. Kalau nggak bisa, ya efisiensi dulu misalnya, mengurangi biaya listrik sampai biaya marketing. Tapi kita berharap nggak sampai begitu," tuturnya.

Prabowo menerangkan, potensi penjualan Suzuki maupun dunia otomotif lainnya pada tahun 2015 diprediksi tak lebih baik dibandingkan dengan tahun ini. Justru yang diperkirakan akan mengalami kenaikan yakni penjualan mobil LCGC (low cost green car). Sedangkan pasar mobil di luar kelas LCGC, mengalami stagnan dinilainya lebih bagus.

"LCGC kita prediksi mengalami kenaikan hingga menembus angka 15 sampai 20 persen. LCGC sangat menopang penjualan kita. Kan semuanya diproduksi di Indonesia," ujarnya.

Dia menambahkan, penjualan LCGC Suzuki (Karimun Wagon R) rata-rata terjual antara 300 unit per bulan dan mengalami penurunan menjadi 250 unit pada menjelang tutup tahun 2014, karena semua pabrikan mobil sudah mengeluarkan mobil LCGC.

Namun, pihaknya tetap terus memantau perkembangan sampai kuartal Tahun 2015. Katanya, jika kuartal pertama kondisinya aman, diperkirakan quartal lainnya juga akan ikut aman.

"Otomotif sekarang kan bukan barang mewah lagi, tapi sudah menjadi kebutuhan. Kita lihat di kuartal pertama dulu tahun depan. Kalau aman, yang lainnya juga aman. Kalau kuartal pertama trennya terus menurun, waduh kita bisa pegangan kepala (pusing)," tandasnya.

(roi/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads